FASLI JALAL: Pendidikan Butuh Komunitas Karakter


Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, untuk mencapai kesuksesan pembangunan karakter di butuhkan komunitas karakter (community of character). Dengan adanya komunitas seperti ini diharapkan ada keberlangsungan pembangunan karakter di seluruh lapisan masyarakat.

"Apabila pembangunan karakter melalui pendidikan di sekolah saja, dan tidak didukung pembangunan karakter di lingkungan masyarakat, mustahil terwujud," kata Fasli ketika beramah tamah dengan para guru di Jambi, Minggu ( 24/7 ). Masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya membangun karakter bangsa, karena dalam lingkup masyarakat selalu tumbuh nilai-nilai yang berlaku secara sosial. "Di masyarakatlah tumbuh nilai-nilai yang kemudian kita maknai ".

Fasli pun menyinggung mengenai media massa yang terkadang memberikan ekses buruk terhadap perkembangan karakter anak. Sebagai bagian dari sistem sosial masyarakat media massa memiliki efek dan dampak yang berpengaruh pada pembentukan sistem nilai, maka dari sangatlah dibutuhkan juga komunitas dari media massa yang mendukung pembangunan karakter, " kita memang mensyukuri terbukanya akses media massa sebagai bagian dari demokrasi, hanya saja tidak sedikit pula yang memberikan dampak yang buruk pada anak-anak kita, oleh karena itulah mari kita mulai memilih konten-konten media massa yang mendukung tumbuh kembang anak, berikan juga pengawasan, rangkul media massa sebagai komunitas yang ramah terhadap pembentukan karakter anak ".

Selain upaya tersebut, Fasli menyebutkan bahwa Kemdiknas menyiapkan pola pendidikan yang disebut media literacy, dengan pendidikan ini diharapkan para peserta didik mampu memproteksi dirinya dalam memilah konten media massa dengan baik. Pemerintah melalui Komisi Penyiaran Indonesia ( KPI ) terus mengawasi konten-konten media massa di masyarakat.

Fasli menyebutkan, pendidikan karakter yang baik tidak hanya melulu melibatkan pengetahuan yang baik, tetapi juga menyertakan pengetahuan tentang bagaimana belajar merasa yang baik. "Kedua aspek tersebut akan berhasil bila dijadikan habituasi atau pembiasaan tingkah laku keseharian " ucap mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi ini ini sembari mengatakan bahwa pembangunan karakter selalu meresap dalam setiap ajaran agama. "Seluruh agama besar menyertakan pembangunan karakter dalam ajarannya, jadi dalam agama ada intersepsi yang universal tentang pembangunan karakter ".

Pada akhir paparannya Fasli menghimbau agar para pengampu pendidikan di tingkat sekolah, mampu memilih jenis pembangunan karakter yang akan dilaksanakan di sekolahnya. "Pemilihan ini haruslah melalui konsensus bersama dan didisiplinkan, karena ini harus berjalan secara konsisten".

Kepala sekolah dan guru diwajibkan mampu memberikan contoh prilaku keteladanan dalam kehidupan keseharian, karena dengan cara seperti itu para peserta didik mampu mencontohnya suri teladan para gurunya, " Pendidikan Karakter itu bukan diajarkan tetapi harus dicontohkan dan dibiasakan, oleh karena itu tugas guru memang sangat berat, tetapi sekali kita mampu memahat karakter dengan baik di peserta didik kita, maka dampaknya akan terasa selama ratusan tahun " ujar Fasli.

sumber: Kemdiknas