Abdullah, Sang Pejuang yang Tidak Menikmati Hasil Perjuangan

Jalan tanah yang berlubang dalam dan sangat licin saat musim hujan telah datang, tidak menyurutkan langkah untuk sampai pada rumah paling ujung desa, jalan yang hanya ditimbun dengan tanah hitam dan dipinggir jalan dibahu kiri dan kanan terdapat air rawah berwarna hitam pekat yang menggambarkan daerah ini termasuk dataran rendah atau 0-1 diatas permukaan laut.

Rumah yang dituju berupa rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu dan berratap dari seng yang telah karatan serta tidak ada listtrik yang mengaliri apalagi televisi yang terleletak di rumah ini, di dinding rumahnya hanya tertempel foto usang dan piagam penghargaan atas pengabdian dan perjuangannya dalam memperebut kemerdekaan bangsa ini.

Saat memasuki rumah terlihat tiga orang yang sedang duduk di depan seorang kakek yang sangat tua, berpeci warna putih, putih pecinya hampir sama dengan warna rambut yang dimilikinya, orang tua itu memegang gelas yang berisi air putih lalu membacanya dengan doa, setelah itu ia menyerahkannya kepada salah seorang yang duduk di hadapan sang kakek tua, lalu air tersebut diminum oleh orang yang menerima gelas itu, setelah berbasa-basi ketiga orang tersebut berpamitan dengan sang kakek yang dianggap mampu oleh masyarakat untuk membantu pengobatan hanya dengan air putih.

“Apa kabar kek” aku bertanya pada kakek uzur berambut putih, dengan penuh kehangatan ia menyambut kedatanganku untuk yang kedua kalinya, tubuhnya yang telah rapuh rupanya tidak membuat ingatan dan matanya menjadi lemah, dengan mudah ia mengingat siapakah aku.

Kekuatannya untuk mengingat seseorang adalah anugerah bagi orang seusia dengannya, walau pun dia telah hidup dunia lebih dari 90 tahun, namun kakek tua yang bernama Abdullah ini pada masa mudanya ia seorang pejuang dan pernah bertempur dengan penjajah Belanda dan Jepang.

Pada pertemuan pertama denganku ia masih mampu menggambarkan perjalanan hidup pada usia muda untuk berjuang bersama-sama temannya untuk berperang, dan ia masih mengingat betul dengan mata menerawang jauh saat pertempuran terakhirnya dan saat itu sebuah peluru menembus lengan tangannya, ia berjibaku saat menyerang pos Belanda yang berdiri kokoh di pasar sialang dan seorang temannya tewas ditembak olehtentara Belanda.

“Hidupmu sekarang sudah enak” Katanya padaku, “saat kakek seusiamu, kakek sudah memanggul senjata dan kami tidak pernah tidur nyenyak, sekarang kamu bisa sekolah dan kuliah, jadi bersyukurlah pada Tuhan dan jangan lupa mendo’akan para pejuang yang telah wafat” itulah nasehat yang masih aku ingat sampai sekarang, nasehat itu ia sampaikan pada pertemuan pertama disaat aku menjalani Kuliah Kerja Nyata di desa ia tinggal beberapa tahun yang lalu.

Pada pertemuan kedua tidak banyak ia bercerita padaku tentang kisah perjuangannya dahulu, ia bercerita tentang peristiwa tahun 1965 dan seorang komandannya yang sampai sekarang tidak ia tahu keberadaannya hanya karena nama sang komandan dicatut diorganisasi yang dilarang setelah peristiwa itu.

Ia juga bercerita tentang kegiatan rutin yang tiap tahun ia lakukan yaitu mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya, ia dan beberapa sisa veteran yang masih hidup mendapat undangan khusus dari Bupati untuk mengikuti upacara bendera pada tanggal 17 Agustus.

“Tahun ini jumlah kami semakin berkurang, mungkin tahun depan kakek tidak ikut lagi upacara” Katanya dengan mata berkaca-kaca, “bila kami sudah tidak ada lagi, kami jangan dikenang, kenanglah perjuangan kami” ia memberi nasehat kepadaku yang hanya terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa.

Itulah kata-kata terakhir yang ia katakan padaku saat pertemun kedua, kata-katanya tersebut menjadi terbukti karena pada upacara 17 Agustus tahun ini ia tidak bisa lagi mengikuti upacara bendera. Namun jiwanya dan jiwa teman-temannya, jiwa para pejuang lain tetap masih melekat dihati semua anak bangsa ini.

Selamat Jalan Pejuang !!! Dirgahayu Indonesia ke 66 Tahun.

Jayalah Bangsaku…………


source: Kompas