Adalah Mulutmu Bau Nagamu

Radianti tak banyak berbicara dengan orang lain selama Ramadan. Lajang berusia 26 tahun ini biasanya supel ngobrol kiri-kanan. “Enggak enak, risih, mulutku bau naga,” katanya sambil nyengir.

Seperti Anti--panggilan akrabnya--banyak orang malas berbicara berdekatan saat puasa, terutama pada bulan Ramadan ini. Memang, bukan hanya saat bicara, saat menguap pun mulut serasa mengeluarkan bau tak sedap. Inilah yang menjadi masalah utama saat memasuki bulan puasa.

Lalu kenapa risih? Padahal persoalan bau mulut orang berpuasa sudah dijamin berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahmad dari Abu Hurairah, “Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih disukai oleh Allah daripada minyak kasturi.”

Tentu saja hadis itu bukan sedang membenarkan bau mulut orang berpuasa. Sebab ada kesehatan dan kebersihan yang lebih penting karena hal itu sebagian dari iman.

Lalu dari mana bau mulut itu datang? Menurut ahli gigi Universitas Trisakti, Profesor Melanie S. Djamil, saat puasa, aliran air liur atau saliva berkurang. Bersamaan dengan itu, poses pembersihan sisa makanan di mulut juga berkurang.

Sisa makanan di gigi, sela-sela gigi, gusi, atau lipatan dalam rongga mulut akan memudahkan bakteri berkembang biak. Di dalam rongga mulut sendiri terdapat puluhan ribu bakteri. “Nah, jika sisa makanan ini masih ada, bakteri akan semakin senang dan membuat mulut menjadi bau naga,” ujar dia.

Sisa makanan atau minuman yang mengandung gula atau bahan-bahan lain berinteraksi dengan bakteri baik yang bisa menjadi bakteri yang berbahaya. Bakteri ini, menurut Dokter Melanie, akan menghasilkan sulfur yang menimbulkan bau mulut tak sedap itu.

Nah, untuk menghindari bau mulut tak sedap, terutama selama puasa, Melanie menyarankan seseorang menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut. Untuk menjaga kebersihan gigi, sebaiknya menggosok gigi setelah sahur, berbuka, atau sebelum tidur. “Supaya rongga mulut tetap bersih,” ucapnya.

Menggosok gigi juga tak boleh sembarangan, yaitu dengan memakai pasta gigi dan sikat gigi yang bisa menjangkau seluruh permukaan dan sela-sela gigi atau gusi. Melanie mengingatkan agar menggosok bagian langit-langit, pipi bagian dalam, dan lidah.

Lidah, yang punya anatomi berbulu-bulu, memudahkan sisa makanan menyusup ke dalamnya. Sedangkan pipi dalam juga mempunyai banyak lipatan. “Ini yang sering kita lupakan, orang hanya berfokus pada gigi,” kata dokter yang juga berpraktek pribadi di Jakarta Selatan ini.

Selain menggosok gigi serta membersihkan lidah dan rongga mulut, Dokter Melanie menyarankan membersihkan sisa makanan dengan benang gigi, semprotan air, atau obat kumur. Tetapi pada kebersihan dasar harus tetap dilakukan.

Perhatian ekstra harus diberikan kepada mereka yang mempunyai penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit lambung, atau sinusitis. Sebab pada saat normal saja, napas atau bau mulut mereka ini sudah tercium khas. Jadi ketika puasa, harus lebih diperhatikan pula. Potensi baru mulut juga terjadi pada perokok.

Menurut Melanie, kegiatan produksi saliva perokok ini jauh lebih rendah dibanding orang bukan perokok, meski tidak serendah penderita penyakit diabetes. Selain menjaga kebersihan gigi, gusi, lidah, dan mulut, Dokter Melanie menyarankan agar kita menghindari makanan atau buah yang beraroma tajam, seperti petai, jengkol, durian, atau nangka.

“Makanan dan buah tersebut tak hanya meninggalkan aroma di rongga mulut, tapi juga melepaskan gas dari lambung ke rongga mulut,” ujarnya. Selama puasa sebaiknya juga memperbanyak minum air putih. Sebab air putih ini akan membilas sisa makanan terutama sisa makanan yang menghasilkan sulfur.

Jadi Radianti tak perlu risih bergaul jika bisa menjaga kesehatan gigi, mulut, dan mengatur asupan saat puasa. Selain meraih pahala puasa Ramadan, juga mendapat kesempatan menjaga kesehatan dan kebersihan.