Bagaimana Cara Pilot Berpuasa di Udara

Saban bulan Ramadan, Indra Merdiana harus benar-benar mempersiapkan diri. Sebab, di tengah menjalankan ibadah puasa, pria 33 tahun ini mesti tetap menjalankan tugasnya sebagai pilot Garuda Indonesia dengan baik. ”Mengantarkan saudara-saudara di dalam pesawat ke tempat tujuan dengan selamat dan senyaman mungkin,” kata Merdiana kepada Tempo.

Bagi Indra, Ramadan kali ini merupakan tahun ketujuh dia harus berpuasa di atas langit. Lantaran berpuasa di udara, dia pun menyesuaikan waktu berbuka puasa dan imsak dengan tujuan penerbangannya.

Indra pernah merasakan berbuka puasa lebih lama dan lebih cepat. ”Untuk penerbangan dengan jarak tertentu akan terasa perbedaan waktunya dan ini biasanya saat berbuka,” kata lelaki yang tinggal di Tangerang, Banten, ini.

Jika terbang dari Medan ke Jakarta lalu menuju Bali, misalnya. Waktu buka puasa di Bali jam 18.00 WITA atau 17.00 WIB, sementara waktu berbuka puasa di Medan pukul 18.30 WIB. “Ini artinya kita berbuka di Bali, padahal di Medan waktu berbuka harus menunggu 1,5 jam lagi. Jadi, waktu puasanya lebih pendek,” katanya.

Sebaliknya, kata Indra, jika terbang dari Bali ke Jakarta lalu ke Medan. ”Sahur di Bali, buka di Medan, ini waktu puasanya lebih panjang atau lama,” ujarnya. Begitu juga dengan penerbangan ke luar negeri seperti ke Jeddah. “Sahur di Jakarta dan saat Jakarta sudah buka puasa, tapi (di Jeddah) karena perbedaan waktu beberapa jam jadi puasanya lebih panjang,” ujarnya.

Michael, pilot Garuda lainnya, melontarkan hal senada. Bagi pilot dan awak kabin, kata dia, puasa di perjalanan harus menyesuaikan waktu di atas langit dan tempat tujuan penerbangan. ”Tapi di dalam pesawat ada buku petunjuk soal itu dan ini sering digunakan oleh teman-teman yang berpuasa,” kata pilot yang biasa menerbangkan pesawat berbadan besar menuju Eropa dan Timur Tengah ini.

Untuk menentukan jam berapa matahari tenggelam pada posisi tertentu, menurut Michael, para awak yang berada di pesawat bisa bertanya kepada rekan-rekan di darat melalui komunikasi radio. Bila hal itu tidak memungkinkan, pilot dan awak pesawat bisa menggunakan buku panduan. ”Misalnya mau ke Eropa dan saat melintas di India waktunya berbuka puasa, yah berbuka puasanya ketika sampai di India,” katanya.

Intinya, kata Michael, jika terbang ke arah barat, maka cenderung masa puasanya lebih lama. Sebaliknya, jika terbang ke arah timur, maka waktu puasanya lebih pendek.

Rahkman Aryandra, 33 tahun, rekan Michael menambahkan, ketika berada di udara, ibadah puasa tergantung pada keyakinan individu masing-masing. “Kebijakan masing-masing. Biasanya di antara dua orang pilot, satu puasa, satunya tidak. Kalau dua-duanya kurang fit, bisa dua-duanya tidak puasa,” katanya.

Menurut Rahkman, setiap pilot dapat merasakan dan mengukur kemampuan apakah puasanya mengganggu tugas penerbangannya atau tidak. ”Keselamatan dan kenyamanan penumpang tetap diutamakan,” kata lelaki yang sudah enam tahun menjadi pilot Garuda ini.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Tangerang K.H. Turmudji mengemukakan, berbuka puasa yang dilakukan oleh para pilot tersebut sudah tepat. ”Jadi, memang harus disesuaikan dengan tempat di mana kita berada,” katanya saat dihubungi Tempo.

Menurut Turmudji, waktu berbuka puasa memang kadang ditentukan oleh tempat di mana seseorang berada. ”Seperti saya, kalau terbang ke Jeddah, berarti waktu berbuka puasanya akan lebih lama dengan waktu Jakarta,” katanya.