FASLI JALAL: Perkembangan Teknologi Selalu Dimulai Dari MIPA

BLOGGER LPMP GORONTALO | Matoduwolo
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menilai, minat masyarakat terhadap bidang studi matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) perlu ditingkatkan. Hingga saat ini, minat masyarakat Indonesia sendiri terhadap MIPA sebagai pilihan studi di perguruan tinggi masih tergolong mengkhawatirkan.

Fasli menyampaikan, dari 5,2 juta mahasiswa saat ini, hanya tiga persen yang memilih MIPA. "Bila melihat negara maju, paling tidak 10 persen mahasiswanya tumbuh di MIPA," kata Fasli ketika menjadi pembicara pada acara Pengkajian Ramadhan 1432 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (11/8), di di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Acara ini mengusung tema "Reaktualisasi dan Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global".

Islam berkemajuan, menurut Fasli harus didukung dengan pengetahuan sains yang mumpuni. Oleh karena itu keberadaan Fakultas FMIPA di perguruan tinggi yang diampu oleh organisasi kemasyarakatan Islam, seperti Muhammadiyah, sangatlah penting. "Karena perkembangan teknologi selalu dimulai dari MIPA sebagai basis keilmuan," tuturnya.

Fasli menjelaskan, untuk merealisasikan Islam yang maju, perlu ditingkatkan kualitas dan akses pendidikan umum di setiap lembaga pendidikan tanpa harus kehilangan ruh Islaminya. "Adanya dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum di lembaga penyelenggara pendidikan keagamaan merupakan penyebab sulit terwujudnya pendidikan Islam yang berkemajuan," tuturnya.

Melihat hal ini Fasli menghimbau agar para aktivis dan pengurus Muhammadiyah, terutama yang bergerak di bidang pendidikan mulai melakukan sinergi dan mengadopsi pendidikan umum. Fasli melihat pengalaman ketika dia menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tidak kurang tujuh Fakultas Kedokteran berhasil didirikan oleh beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah. "Langkah ini sebagai bukti bahwa Muhammadiyah melihat pentingnya juga pendidikan umum dan sains.

Fasli melihat potensi lain yang dapat ditumbuhkan oleh para ilmuwan Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki banyak sekali ilmuwan yang mumpuni baik di bidang sains maupun sosial, hanya saja belum terorganisasi secara baik. Maka dari itu Fasli menyarankan agar segera mungkin para pengurus Muhammadiyah dapat mendata para ilmuwan yang lengkap dengan kategori keilmuwannya. "Mari kita siapkan agenda penelitian untuk mereka menurut minat dan bidang ilmu yang mereka kuasai, kemudian nanti disambut oleh block grant khusus penelitian," ujar Fasli.

Mengenai pendanaan penelitian, Fasli melihat peluang lain. Selama ini banyak sekali lembaga penyalur zakat, infak, sedekah dan wakaf mulai membidik dunia pendidikan. Implementasiannya berupa bangunan fisik dan mulai ada kecenderuangan pemberian beasiswa. "Saya melihat hal ini sangat positif, walaupun masih sedikit yang melihat pentingnya peningkatan mutu pendidikan. Jika memungkinkan, dana-dana tersebut dapat ikut mendanai penelitian," kata Fasli.

Fasli yakin, dampak yang diciptakan oleh hasil penelitian selain ikut meningkatkan kualitas serta mutu pendidikan, akan banyak manfaat yang akan diterima oleh umat.


sumber: Kemdiknas