'Kungfu Panda 2': Panda Imut vs Merak Maut

Dan, bertemulah keduanya di istana Shen Sang Merak. Po, si Panda yang adalah Ksatria Naga, dalam posisi terikat. Shen berkata, "Satu-satunya alasan kamu masih hidup adalah karena saya pikir kebodohanmu itu sungguh menghibur." Po pun membalas, "Terima kasih, tapi saya pikir kejahatanmu sungguh mengganggu.".

Shen, dengan mata tajam memandang Po. "Kamu pikir kamu siapa, Panda?”. Dijawab, "Kamu pikir, kamu siapa, Merak?". Dan, keduanya pun tertawa terbahak selama beberapa detik, hingga Po bertanya dengan muka kebingungan, "Mengapa kita ketawa, ya?". Dan, penonton pun ikutan terbahak-bahak.

'Kung Fu Panda 2' boleh dibilang adalah salah satu film terasyik sepanjang 2011, sejauh ini. Sepanjang 91 menit penonton diajak tertawa, terharu, dan terlibat dalam cerita yang animasinya menawan—dalam berbagai format, mulai dari wayang Cina, hingga kartun "old school". Dan, unsur terkuatnya adalah humor yang universal, yang mampu menembus batas-batas budaya dan negara.

Hal lainnya yang menarik adalah sebuah kenikmatan visual—apalagi jika dalam format 3D—khususnya dalam hal koreografi kung fu. Dan, bagi yang belum menonton film pertamanya, jangan takut, Anda tidak akan kehilangan apa-apa. Dan bagaimana dengan cerita? Mari kita bahas satu-satu.

Soal muatan humor, tentu jauh lebih nikmat jika Anda menontonnya dan menemukannya sendiri di bioskop. Pun dengan koreografi silatnya—bisa dibayangkan bagaimana seekor merak dengan bulunya yang indah dan dimekarkan bak kipas, dan kaki baja yang anggun, berkelahi. Soal keasyikan mengeksplorasi tempat-tempat yang begitu detail, ini cukup unik.

Pertama, karena sutradaranya, adalah animator (story artist) dari 'Kung Fu Panda' pertama, di samping 'Madagasgar', sehingga ia begitu memperhatikan detail-detailnya, dari Perkampungan Damai , Kota Gongmen, sampai pegunungan. Kedua, karena tim film ini niat banget buat bikin lokasinya semirip mungkin dengan tanah asal Panda, yaitu Cheng du.

Apa bedanya antara film pertama dengan yang sekarang? Jika yang pertama bercerita tentang asal usul Po menjadi Dragon Warrior, yang kedua mengisahkan asal usul meriam dan juga asal usul Po sebagai….Panda. Tentunya, penonton bertanya-tanya soal film pertamanya: mengapa seekor Panda punya ayah "seorang" bangau, Mr. Ping (James Hong)? Dan mengapa hanya Po seorang yang Panda di semesta itu?

Di seri kedua ini, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab. Film dibuka dengan adegan Lord Shen (suara oleh Gary Oldman), pewaris tahta Istana Merak yang menguasai GongMen City di China, mengeksploitasi bubuk kembang api menjadi sebuah senjata canggih—yang nantinya bermetamorfosa menjadi kanon. Adegan pembukanya begitu mempesona, dengan teknik animasi seperti wayang klasik Asia.

Ketika Sang Peramal (Michelle Yeoh) menyatakan bahwa Shen akan dikalahkan oleh "ksatria hitam putih", Shen pun berniat menghabisi seluruh ekosistem Panda, sebuah rencana yang ditolak kedua orang tuanya yang menyebabkannya diusir dari Istana. Dan desa Panda itu pun porak poranda diamuk malapetaka. Tigapuluh tahun kemudian, Shen, setelah merebut kembali Istananya, kembali bereksperimen membuat meriam dan menyerang penduduk desa.

Po (Jack Black) yang kini menjadi Dragon Warrior bersama The Furious Five-- Tigres (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Mantis (Set Rogen), Viper (Lucy Liu), Crane (David Cross)--pun diutus Master Shifu (Dustin Hoffman) untuk mempertahankan desa itu, seraya menasehatinya untuk berdamai dengan diri sendiri. Di sinilah, Po melihat sebuah simbol yang mengingatkannya pada masa lalunya.

Shi Fu pun mengutus mereka ke pusat negeri Cina, karena Shen semakin merajalela setelah membunuh Master Thundering Rhino (Victor Garber), dan memenjarakan dua suhu kung fu lainnya, Masters Storming Ox (Dennis Haysbert) dan Croc (Jean-Claude Van Damme). Tugas Po dan kawan-kawan sangat berat kali ini: menyelamatkan tradisi kung fu dari ancaman meriam. Sanggupkah Po melakukannya?

Ini adalah kisah klasik seputar kung fu (balas dendam, yang baik vs yang jahat), tetapi sangat efektif untuk menyeret penonton ke dalam dunia reka-percaya. Ceritanya cukup mengalir lancar, dan ditambah unsur-unsur visual dan humor, film ini pas ditonton segala umur. Tokoh Meraknya juga didesain dengan anggun tapi sangat kejam dan berkuasa—khususnya setelah "dirasuki" Gary Oldman.

Satu lagi: banyak dialog yang bagus yang layak untuk direnungkan. Dan teknologi Dream Work, stereoscopic 3-D dalam InTru 3D, membuatnya sangat layak dinikmati dalam format 3D. Dan, ada kejutan di akhir film. Sampai jumpa dalam sekuel berikutnya!


source: detikNews