Mendiknas Berikan Bantuan Sosial Pendidikan Rp 1,097 Miliar Untuk Malaysia

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh memberikan bantuan sosial Rp 1,097 miliar untuk tujuh pusat pembelajaran (learning center) atau disebut SMP Terbuka di Sabah Malaysia. Bantuan meliputi alat pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi, pendidikan keterampilan, alat pendidikan dan bantuan beasiswa.

Mendiknas menyampaikan, fasilitas pendidikan sangat penting diberikan kepada anak-anak tenaga kerja Indonesia usia sekolah di Malaysia. Menurut Mendiknas, jika pendidikan mereka tidak ditingkatkan maka akan menjadi beban. "Dalam keadaan apapun kita harus memberikan layanan pendidikan," katanya usai memberikan bantuan sosial di di SMP Terbuka Merotai, Tawau, Sabah, Malaysia, Minggu (21/08/2011).

Bantuan lain yang diberikan berupa modul pembelajaran dan paket ekstrakurikuler untuk 13 pusat pembelajaran.Mendiknas juga memberikan Alquran dan buku tulis untuk siswa. Pusat pembelajaran ini diresmikan Mendiknas pada Oktoboer tahun lalu dan sudah beroperasi memberikan layanan pendidikan bagi siswa setara lulusan sekolah dasar di Sabah.

Mendiknas menyampaikan, Kemdiknas melakukan terobosan bekerjasama dengan pihak perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan di ladang-ladang perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Pihak perusahaan menyediakan fasilitas, sedangkan pemerintah menyiapkan guru dan bantuan operasional sekolah (BOS). "Mereka kita beri BOS, sehingga bisa mengurangi tekanan biaya," katanya.

Pada kesempatan yang sama Mendiknas meresmikan enam pusat pembelajaran baru di Sabah, yakni Ladang Sapi 2, Ladang Permodalan, Ladang Genting Suanlamba, Ladang Borneo Samudera, Ladang Asia Palmoli, dan Ladang Baturong. Sehingga sampai saat ini terdapat 13 pusat pembelajaran.

Mendiknas mengatakan, pusat pembelajaran ini dalam operasionalnya disupervisi oleh Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Menurut Mendiknas, meskipun statusnya masih informal, tetapi sekolah ini akan dijadikan sekolah satelit yang menginduk ke SIKK. "Dijadikan sekolah satelit agar menjadi sekolah formal," katanya.

Koordinator Pusat Pembelajaran Mahropiono menyampaikan, saat ini ada 800 peserta Paket A setara sekolah dasar yang menunggu hasil kelulusan ujian. Mereka nanti akan meneruskan sekolah ke enam pusat pembelajaran dan tempat kegiatan belajar (TKB). "Pola pikir masyarakat Indonesia di sini diharapkan berubah menjadi sadar akan pentingnya pendidikan," katanya.


source: Kemdiknas