MERDEKA ITU APA? Merdeka Berpikir & Mengaktualisasikan Diri

Rabu tanggal 17 Agustus 2011 usia negeri tercinta ini genap 66 tahun. Sejak dua hari lalu rangkaian bendera merah putih yang merupakan salah satu symbol negeri tercinta terlihat di gedung gedung pemerintahan, di sekolah sekolah juga di gedung gedung perkantoran non pemerintahan. Penjual bendera berikut tiang bambu tak seperti biasanya, kini nampak sepi. Rasanya kemeriahan peringatan 66 tahun Indonesia merdeka masih kalah dengan kemeriahan dan keceriaan ramadhan juga acara buka bersama. Merdeka adalah sebuah kata yang berasalah dari bahasa sansekerta “Maharddhika”, yang dalam bahasa Indonesia yang berarti bebas.

Rasanya perlu flashback pada pelajaran sejarah semasa SMP atau SMA dimana bapak dan ibu guru menerangkan bahwa jika para pejuang jaman dulu berjuang melawan penjajah dengan berperang dan aangkat senjata, maka hal itu tak perlu lagi di jaman sekarang, cukuplah bagi generasi penerus mengisi kemerdekaan dengan belajar.

Bicara soal belajar pastilah identik dengan yang namanya sekolah, namun belajar tak harus terpaku dan identik dengan bangku sekolah. Belajar bisa dari siapa saja dan dari apa saja yang ada dalam kehidupan ini. Angin, air pohon dan seluruh ciptaan-Nya adalah tempat pembelajaran natural yang kadang sering terlupakan.

Jika kita berbicara tentang kemerdekaan rasanya tidak terlepas dari apa yang sering kita sebut dengan pahlawan. Para pahlawan adalah pekerja pekerja besar yang mampu menyelesaikan “pekerjaan pekerjaan besar” dalam sejarah. Sejarah adalah bukti hitam diatas putih yang menunjukkan bahwa negeri ini terbebas dari penjajahan karena peran dan kerja keras para pahlawan. Para pahlawan dahulu ketika berjuang senantiasa mengedepankan nilai-nilai keberanian, kesabaran, pengorbanan, kompetisi, optimistis, dan siap sedia dengan segala kemungkinan saat itu. Nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar tetap menjadi basis utama filosofi perjuangan mereka.

Makna kemerdekaan yang ada di kepala para pahlawan saat itu adalah membebaskan Indonesia dari penindasan dan tirani oleh pihak-pihak yang berusaha mencengkeram Indonesia untuk kepentingan kekuasaan. Selanjutnya setelah meraih kemerdekaan tahun 1945, Indonesia ibarat bayi yang belajar merangkak, kemudian berdiri dan tumbuh besar hingga saat ini. Jika kita kembali melihat ke belakang setelah kemerdekaan, banyak sekali terjadi hal-hal yang pada hakikatnya bukanlah kondisi suatu bangsa yang merdeka. Masa pemerintahan orde lama dengan demokrasi terpimpinnya, dilanjutkan dengan masa orde baru yang juga hampir-hampir sama dengan kondisi sebelumnya, ternyata membuka mata kita bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah tirani, penindasan, dan kedholiman atas rakyatnya yang semakin termiskinkan dan terpinggirkan.

Rasanya agak bertentangan dengan salah satu tujuan pembangunan nasional Indonesia yang termaktub di dalam UUD 45 yaitu menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Lantas apakah benar kita sudah merdeka? Selanjutnya ketika rakyat pada saat itu telah jenuh dan bosan dengan segala penindasan dan tirani, akhirnya terjadilah sebuah peristiwa yang menyebabkan reformasi total di seluruh sisi pemerintahan bangsa Indonesia. Walaupun pada perjalanan selanjutnya, realitas di lapangan tidak seindah apa yang direncanakan sebelumnya. Ternyata masih banyak saja hal-hal yang justru tidak mencerminkan kemerdekaan sesungguhnya, sebagai contoh rakyat Indonesia saat ini masih saja dijajah oleh kebodohan, ketidaktertiban, kebohongan, korupsi, dan lain hal sebagainya yang akhirnya menyebabkan kesejahteraan itu belum sampai kepada masyarakat seluruhnya. Ini tentu bertentangan dengan makna merdeka tadi. Belum lagi ketika para generasi muda kita dijajah oleh berbagai jenis hiburan dan hal-hal yang menimbulkan kerusakan lainnya. Penyebab itu semua yang paling mendominasi adalah karena begitu banyaknya sisi yang telah jauh menyimpang dari nilai-nilai kebenaran.

Secara hukum negeri ini memang sudah merdeka, 66 tahun sejak tahun 1945, namun tak jarang sebagian mereka masih ada juga yang belum mencecap kemerdekaan, kemerdekaan bagi mereka hanyalah sebuah tulisan dan kata kata yang masih sangat jauh dengan makna yang sebenarnya. Masih banyak rakyat negeri ini yang berada dalam belenggu kebodohan dan pembodohan.

Ada pengalaman menarik ketika saya melakukan sebuah perjalanan ke ujung timur pulau Jawa, dimana saya harus melakukan survey sebuah lahan minyak. Bukan hal baru jika sebuah lahan minyak dijaga oleh seorang sekurity. Namun yang membuat saya terkaget kaget adalah ketika melihat sekurity itu tidak mau berpakaian sekurity, namun hanya bercelana pendek dan memakai sarung di lehernya. Untuk memastikan saya bertanya kepada proyek managernya, “ini sekurity atau hanya penjaga biasa”? pertanyaan saya ulang lagi tapi jawabannya sama, dia adalah seorang sekurity yang dikelola oleh salah satu vendor BUJP. Namun setiap kali diminta untuk berseragam, dia selalu mengancam dengan senjata khas daerah ini. Betapa mirisnya hati saya, dijaman merdeka masih ada yang seperti ini. Cerita saya ini mungkin hanyalah sekelumit dari yang ada.

Jika kita berbicara tentang kemerdekaan rasanya tidak terlepas dari apa yang sering kita sebut dengan pahlawan. Para pahlawan adalah pekerja pekerja besar yang mampu menyelesaikan “pekerjaan pekerjaan besar” dalam sejarah. Sejarah adalah bukti hitam diatas putih yang menunjukkan bahwa negeri ini terbebas dari penjajahan karena peran dan kerja keras para pahlawan. Para pahlawan dahulu ketika berjuang senantiasa mengedepankan nilai-nilai keberanian, kesabaran, pengorbanan, kompetisi, optimistis, dan siap sedia dengan segala kemungkinan saat itu. Nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar tetap menjadi basis utama filosofi perjuangan mereka.

Makna kemerdekaan yang ada di kepala para pahlawan saat itu adalah membebaskan Indonesia dari penindasan dan tirani oleh pihak-pihak yang berusaha mencengkeram Indonesia untuk kepentingan kekuasaan. Selanjutnya setelah meraih kemerdekaan tahun 1945, Indonesia ibarat bayi yang belajar merangkak, kemudian berdiri dan tumbuh besar hingga saat ini. Jika kita kembali melihat ke belakang setelah kemerdekaan, banyak sekali terjadi hal-hal yang pada hakikatnya bukanlah kondisi suatu bangsa yang merdeka. Masa pemerintahan orde lama dengan demokrasi terpimpinnya, dilanjutkan dengan masa orde baru yang juga hampir-hampir sama dengan kondisi sebelumnya, ternyata membuka mata kita bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah tirani, penindasan, dan kedholiman atas rakyatnya yang semakin termiskinkan dan terpinggirkan.

Rasanya agak bertentangan dengan salah satu tujuan pembangunan nasional Indonesia yang termaktub di dalam UUD 45 yaitu menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Lantas apakah benar kita sudah merdeka? Selanjutnya ketika rakyat pada saat itu telah jenuh dan bosan dengan segala penindasan dan tirani, akhirnya terjadilah sebuah peristiwa yang menyebabkan reformasi total di seluruh sisi pemerintahan bangsa Indonesia. Walaupun pada perjalanan selanjutnya, realitas di lapangan tidak seindah apa yang direncanakan sebelumnya. Ternyata masih banyak saja hal-hal yang justru tidak mencerminkan kemerdekaan sesungguhnya, sebagai contoh rakyat Indonesia saat ini masih saja dijajah oleh kebodohan, ketidaktertiban, kebohongan, korupsi, dan lain hal sebagainya yang akhirnya menyebabkan kesejahteraan itu belum sampai kepada masyarakat seluruhnya. Ini tentu bertentangan dengan makna merdeka tadi. Belum lagi ketika para generasi muda kita dijajah oleh berbagai jenis hiburan dan hal-hal yang menimbulkan kerusakan lainnya. Penyebab itu semua yang paling mendominasi adalah karena begitu banyaknya sisi yang telah jauh menyimpang dari nilai-nilai kebenaran.

Secara hukum negeri ini memang sudah merdeka, 66 tahun sejak tahun 1945, namun tak jarang sebagian mereka masih ada juga yang belum mencecap kemerdekaan, kemerdekaan bagi mereka hanyalah sebuah tulisan dan kata kata yang masih sangat jauh dengan makna yang sebenarnya. Masih banyak rakyat negeri ini yang berada dalam belenggu kebodohan dan pembodohan.

Ada pengalaman menarik ketika saya melakukan sebuah perjalanan ke ujung timur pulau Jawa, dimana saya harus melakukan survey sebuah lahan minyak. Bukan hal baru jika sebuah lahan minyak dijaga oleh seorang sekurity. Namun yang membuat saya terkaget kaget adalah ketika melihat sekurity itu tidak mau berpakaian sekurity, namun hanya bercelana pendek dan memakai sarung di lehernya. Untuk memastikan saya bertanya kepada proyek managernya, “ini sekurity atau hanya penjaga biasa”? pertanyaan saya ulang lagi tapi jawabannya sama, dia adalah seorang sekurity yang dikelola oleh salah satu vendor BUJP. Namun setiap kali diminta untuk berseragam, dia selalu mengancam dengan senjata khas daerah ini. Betapa mirisnya hati saya, dijaman merdeka masih ada yang seperti ini. Cerita saya ini mungkin hanyalah sekelumit dari yang ada.

Dari berbagai hal yang terjadi, tentu kita pun harus kembali memaknai apa sebenarnya kemerdekaan itu. Dalam ajaran islam konsep kemerdekaan adalah bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dan dengan da’wah tauhidnya yang akan menyadarkan, membebaskan, dan memerdekakan manusia dari penghambaan kepada manusia lain dan materi menuju penghambaan sejati yaitu kepada Allah Maha Pencipta, dengan mengajak kepada kebenaran, menegakkan keadilan, dan mencegah kebathilan dengan cara yang ma’ruf. Sehingga sejatinya merdeka bermakna membebaskan diri dari penghambaan selain kepada Allah. Jika konsep ini berjalan dengan benar, maka kita tidak akan menjumpai lagi bentuk-bentuk penjajahan implisit yang kulitnya menawarkan kemakmuran padahal sejatinya menghancurkan.

Masih banyak penyimpangan penyimpangan yang terjadi ditengah kemerdekaan. Untuk mengisi kemerdekaan ini tak hanya butuh orang orang pinter dan bermoral saja tetapi juga butuh orang yang berani. Pinter bukan berarti untuk minteri rakyat, berani bukan berani korupsi tetapi berani mengatakan yang benar. Tapi memang unik negeri tercinta ini, orang berani, bermoral, dan jujur mengatakan sesuatu yang benar pastilah akan tergeser dan tergusur.

Tulisan diatas adalah makna kemerdekaan menurut pemikiran dan opini saya sebagai anak negeri. Saya bangga menjadi anak Indonesia tetapi ada rasa kecewa dengan para pemimpin pemimpin negeri ini. Tetapi saya ingat pesannya Bapak Eep Saefullah Fatah “Mari cintai negeri ini dengan hati”. Dirgahayu Indonesiaku.


source: Kompasiana