Mobil Formula Listrik ini Asli Buatan Orang Indonesia

Mobil balap versi Formula 1 bertenaga listrik kini tak hanya menjadi produk negara maju. Orang Indonesia pun saat ini mampu membuatnya.

Itu dibuktikan oleh Andre Mulyadi, bos Signal Custom Built, yang membuat mobil balap listrik Signal Kustom Electric Vehicle 1 (SKEV-1). Namun Andre tak sendirian membuatnya. Ia menggandeng Abdul Hapid, Kepala Bidang Peralatan Transportasi di Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta AutoVision dan Alpine untuk lampu dan perangkat audio mobil tersebut.

“Idenya terinspirasi laga balap Formula 1 dan Lemans. Pada satu sisi, kini masyarakat global lagi demam mobil listrik,” ujar Andre saat ditemui di gelaran Hari Teknologi Nasional, di Puspitek, Serpong, Rabu, 10 Agustus 2011.

Berangkat dari ide dan semangat itulah ia bersama tim gabungan tersebut ingin membuktikan bahwa bangsa Indonesia juga mampu membuat kendaraan bersumber tenaga listrik. “Total butuh waktu delapan bulan untuk pengerjaan ini. Dan hasilnya, mobil balap itu,” ujar Andre.

Tampilan mobil buatan Andre tak ubahnya mobil Formula besutan Ferrari, McLaren, Mercedes, atau beberapa pabrikan top dunia lainnya.

Namun, ada daya tarik tersendiri pada mobil itu dibanding mobil lain sejenis, yaitu kelengkapan peranti audio. “Sebab mobil ini awalnya dibuat untuk mengikuti kontes Autoblackthrough 2010, sehingga dandanannya dibuat semenarik mungkin,” kata Andre.

Pada bagian kabin terlihat empat buah subwoofer 10 inci, empat speaker enam inci dengan tweeter, serta tiga buah power unit. Agar lebih terkesan mutakhir, dilengkapi layar sentuh LCD 7 inci.

Kesan canggih juga terpancar dari bagian lampu yang menggunakan jenis proyektor dan Light Emitting Diode (LED). Kedua jenis lampu tersebut sengaja menggunakan produk AutoVision. “Karena hanya merek itu yang mempunyai lampu LED dengan formasi deret,” kata Andre.

Pada sisi lain, lampu tersebut juga memiliki daya pancar sinar yang jauh lebih terang tapi irit konsumsi listrik, sehingga tidak akan membuat beban baterai listrik bertambah. Tampilannya pun terkesan modern. “Itu cocok dengan tema yang kami usung, yaitu high technology,” ujar Andre.

Secara fisik mobil itu menggunakan basis Honda Genio buatan 1993. Namun kenyataannya jejak Honda Genio itu nyaris tak tersisa. Satu-satunya warisan Genio yang masih ada adalah sistem transmisinya. Selebihnya, atau 95-98 persen dibuat secara custom.

Andre menggunakan bahan dari logam, serat karbon, dan serat kaca untuk membangun bagian-bagian mobil. Mulai dari sasis, bodi, fender, hingga sistem suspensi ia bikin sendiri.

Tampilan gahar dan kesan sporty memancar kuat juga berkat dukungan ban Pirelli berukuran 295/30 ZR19 di bagian depan dan 355/25 ZR19 di bagian belakang. Sistem pengeremannya menggunakan empat buah cakram berventilasi dengan sebuah piston lansiran pabrikan Italia, Brembo.

Adapun soal tenaga penggerak, Andre dan tim Signal Custom mempercayakannya kepada Abdul Hapid. Pasalnya, peneliti dari LIPI itu sebelumnya telah malang melintang melakukan percobaan mobil listrik dan hybrid. “Kami menggunakan motor listrik AC (searah) bertenaga 60 daya kuda dan baterai ion lithium bertegangan 96 volt hour dan berkapasitas 200 Amphere hour,” ujar Hapid.

Bila baterai terisi penuh, mobil itu mampu melaju hingga jarak 140-150 kilometer. Adapun kecepatan maksimal yang bisa dicapai diperkirakan mencapai 140 kilometer per jam.

Proses pengisian baterai SKEV-1 itu juga tidak menyusahkan. Pasalnya, cukup menggunakan instalasi listrik rumah berdaya 220 volt dengan masa pengisian hanya 4 jam. “Bahkan, bila menggunakan charger sistem pengisian cepat, cukup 20 menit sudah terisi penuh,” ujar Hapid.

Daya tarik lain dari mobil ini adalah penggunaan teknologi pendaur ulang energi listrik yaitu Energy Recovery Brake System (ERBS). Artinya, tenaga yang dikeluarkan kala pengemudi mengerem tidak serta-merta terbuang, melainkan didaur ulang untuk mengisi tenaga setrum ke baterai. “Walhasil, mobil ini irit sumber listrik,” ujar Hapid.

Hanya, untuk membuat mobil ini juga diperlukan investasi yang tidak kecil. Berapa biayanya? Andre tak bersedia menyebutkannya. “Yang pasti kami bangga bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia bisa menghasilkan karya bagus,” ujarnya lagi.