Pendidikan Spiritual Ramadhan

PERNAH satu ketika, puluhan rektor universitas di Amerika mengadakan konferensi di Michigan, mereka seakan terpana, bila Rektor Morehouse College Georgia Dr. Benjamin E. Mays mengatakan bahwa kita telah banyak memiliki ilmuan sepanjang sejarah, kita pula telah banyak menghasilkan lulusan perguruan tinggi di bandingkan dengan negara-negara lain di dunia ini. Namun kemanusiaan kita kemanusiaan yang berpenyakit. Kita tidak butuh pengetahuan, yang kita butuhkan justru sesuatu yang bersifat spritual.

Pernyataan itu membuat peserta konferensi tersentak, mengapa tidak? karena selama ini mereka menyadari bahwa perguruan tinggi telah mencetak para intelektual yang tidak utuh lagi. Manusia yang punya nalar tinggi tapi berhati kering, para sarjana mampu merekayasa dalam teknik, namun merayab dalam kehidupan etik, para ilmuan yang pongah dengan penemuan-penemuan, malah mereka kebingungan menikmati kehidupan dunia. Teriakan Mays nampaknya sejalan dengan apa yang dikemukakan para pakar pendidikan kita, bahwa pendidikan itu harus memerhatikan sisi humaniora, mengindahkan sesuatu yang bersifat spritual “something spritual”.

Terlepas dari itu, memang kemanusiaan kita selama ini sedang mengalami kesakitan. Realitas mengungkap bahwa berapa banyak sudah sarjana dan orang pintar, namun kesulitan memperoleh orang-orang jujur. Hal ini lebih disebabkan bahwa mereka hanya mampu mempertajamkan akal pikiran namun mengenyampingkan panggilan hati nurani. Dapat dikata bahwa dengan pengetahuan yang ada kita mampu terbang ke luar angkasa, melakukan berbagai riset dan penelitian untuk kemajuan bangsa, namun hati kita selama ini sudah diperbudak oleh hawa nafsu, keserakahan, dendam, emosi, penipuan dan korupsi.

Seorang pakar hukum, dia mampu dengan cepat melihat pasal apa yang bisa membantu kliennya dalam satu perkara, namun dia buta akan isyarat keadilan. Seorang sarjana, dia mampu melihat keteraturan alam ini, namun dia kesulitan memahami sang pencipta keteraturan ini. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya krisis di dunia ini, dunia kesulitan mendapatkan orang-orang yang bisa mengembangkan dua potensi sekaligus.

Dalam kontek ini Thomas Merton penulis buku Mysticism in the Nuclear Age mengatakan bahwa kita tidak bisa menyalamatkan dunia ini dari krisis hanya dengan konsep, teori, ideologi, dan sistem atau apapun namanya. Kita tidak bisa menciptakan keteraturan sosial tanpa orang dermawan dan kita tidak bisa menciptakan kedamaian dunia tanpa orang-orang suci, para intelek yang jujur dan cendikiawan hari ini dunia memerlukan satu orang suci saja berbanding seribu manusia nalar.

Dalam al-Qur’an orang suci itu adalah orang-orang yang bertaqwa (Surat Yunus 62-64). Orang bertaqwa adalah yang telah mendapatkan banyak cahaya dari Allah, jadi karenanya untuk memperoleh cahaya yang terang tersebut diperlukan upaya kuat sebagaimana diperlukan sekolah untuk mendidik manusia intelektual, maka diperlukan pula madrasah bathiniyah sebagai sarana pendidikan spiritual manusia untuk menjadi bertaqwa, madrasah ini tidak lain adalah Ramadhan.

Pendidikan Spiritual
Ramadhan akan mendidik kita menjadi manusia yang ikhlas beribadah. Kata ikhlash berasal dari kata “khalasha” yang artinya bersih atau lepas dari sesuatu, selamat atau terlepas dari bahaya. Semua orang celaka kecuali yang beramal dan semua amal celaka kecuali yang ihklas. Amal yang ihklas itu adalah amal yang dikerjakan semata-mata mengharap ridha Allah karena cinta kepada-Nya. Sebagai perbandingan, seorang istri yang baik melayan keperluan suaminya dengan senang hati, istri itu tidak berharap diberikan uang, atau bingkisan lainnya, juga bukan karena takut dimarahi suami, tetapi dia lakukan semua itu karena suatu kewajiban dan karena cinta kepada suami. Oleh yang demikian, ikhlas berarti beramal semata-mata mengharap keridhaan Allah. Puasa adalah latihan supaya kita menjadi manusia ikhlas sebab puasa tidak kelihatan orang, kelelahan fisik, kelesuan, bukan menunjukan puasa saja.

Puasa hanya bisa dijalankan dengan ikhlas. Seseorang yang melakukan puasa tidak karena mengharap pujian manusia, dalam puasa dididik bahwa keridhaan Allah jauh lebih besar dari dunia dengan segala isinya. Ikhlas menunjukan sucinya niat bersihnya tujuan amal dan lepasnya manusia dari perbudakan dunia. Sehingga Rasul menjelaskan, sesorang yang beramal tidak ikhlas (ria) sama artinya dengan melakukan “syirik kecil” yaitu menggantungkan amal ibadah kepada manusia, menampakkan dan menonjolkan di hadapan manusia. Dalam al-Qur’an banyak ayat yang mencela orang seperti itu antaranya surat Al-maun 4-6: “Maka celakalah orang-orang shalat, yang lalai dalam shalatnya dan yang melakukannya untuk dilihat orang lain” Pada ayat yang lain ditegaskan bahwa mengerjakan amal karena ria adalah salah satu sifat orang munafik yaitu orang-orang yang pepat diluar, pancung di dalam, lain di mulut lain juga di hati. (An-nisa’: 142)

Dalam Ramadhan seorang muslim dididik juga untuk menghindari segala perbuatan yang tercela, mengendalikan lidahnya supaya tidak mengeluarkan kata-kata keji, kata yang tajam dan menyinggung orang lain. Bahkan bila ia dicemoohkan orang sekalipun, Rasullullah SAW mengajarkan dengan jawaban sederhana: “Inni Shaaim” (Aku sedang berpuasa). Ia mengendalikan telinganya, pemandangannya, seluruh anggota badannya bahkan getaran hati. Rasullullah bersabda: “berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi mereka tidak memperoleh apa-apa, kecuali hanya lapar dan dahaga”. Begitu peringatan Rasullullah, taqwa tidak akan dicapai tanpa proses pembersihan diri, cahaya bathiniyah tidak akan mampu menembus hati yang dipenuhi dosa dan maksiat, nur Rabbani tidak akan terpantul dari jiwa yang kotor.

Dalam puasa seorang muslim dididik untuk membiasakan berbuat baik (ihsan) dalam menyembah Allah, satu ketika Rasul ditanyai oleh seorang lelaki ganteng yang belakangan diketahui adalah Jibril, Apa itu ihsan kepada Allah?, Rasul menjawab, “Jika kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat Nya, yakin dan percaya bahwa Allah melihat kamu.” Pada tingkatan kedua ihsan yaitu berbuat baik kepada makhluk Allah. Membiasakan memperbanyak sedekah, mengembirakan orang susah, meringankan beban dan pada saat yang sama digerakan lidah untuk berzikir dan membaca al-Qur’an, ditegakan kakinya untuk melakukan shalat dan dipenuhi malam-malamnya untuk mohon ampun kepada-Nya.

Akhirnya, andaikan pendidikan spiritual yang diajarkan dalam Ramadhan ini diaplikasikan oleh kaum muslimin, sungguh dunia ini tidak akan kehabisan orang-orang taqwa. Kualitas pendidikan yang diajarkan Ramadhan akan sanggup memberikan keharuan iman pada kegersangan intelektual, timbangan keadilan pada kepongahan kekuasaan, kelembutan kasih sayang pada kecongkakan kekayaan dan sanggup pula memberikan keutuhan insan pada kemanusiaan yang cacat. Allahu ‘Alam Bissawab.