Siapkan 7 Jurus Mudik Aman dan Irit

Perjalanan mudik Lebaran kali ini diperkirakan bertambah berat. Pasalnya, jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil pribadi dan kendaraan umum meningkat.

Walhasil, jalanan pun akan penuh sesak dengan kendaraan. Segala jenis moda transportasi akan tumplek blek di sepanjang jalur mudik pada saat yang bersamaan.

Pada sisi lain, beban yang harus diangkut mobil terkadang juga mencapai batas maksimal atau bahkan lebih. Pasalnya, selain memuat seluruh anggota keluarga, mobil juga harus mengangkut barang bawaan.

“Pada saat seperti itu kita wajib memberi perhatian ekstra ke aspek keselamatan dan keamanan. Dua aspek itu jauh lebih penting, meski kita juga harus berusaha hemat bahan bakar,” tutur Jimmy Lukita, pembalap yang juga pemilik bengkel AFJ Motor, Jalan Basuki Rachmat, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat, 19 Agustus 2011.

Lantas apa saja hal-hal yang wajib diperhatikan? Bagaimana cara menjalaninya? Berikut penjelasan Jimmy.

1. Pastikan kondisi sistem pengereman

Selain memeriksa atau mengganti kanvas dan piringan cakram rem, sebaiknya juga menguras minyak rem. Pasalnya, cairan pelumas tersebut memiliki peran vital dalam mekanisme sistem hidrolik pengereman.

“Pada satu sisi, beban yang harus disangga sistem pengereman ketika pengemudi mengerem mobil juga semakin besar, seiring dengan saratnya beban di mobil,” ujar Jimmy.

Meski minyak tersebut masih belum mencapai batas maksimum masa pakai atau mobil telah menempuh jarak 30-40 ribu kilometer, menggantinya adalah langkah yang bijak. Terlebih pada perjalanan mudik jalanan juga macet dan pengemudi harus kerap mengerem.

2. Gunakan minyak rem berspesifikasi tinggi

Jalur mudik yang penuh sesak dengan kendaraan dan arus lalu lintas dalam kondisi Stop and Go alias kerap berhenti maju, mengharuskan pengemudi mengerem. Bila hal itu terjadi, suhu pada sistem pengereman akan meninggi.

“Suhu yang tinggi itu juga dialami oleh minyak rem. Bila suhu melebihi ambang batas titik didih minyak, minyak yang bersangkutan tidak akan berfungsi maksimal,” ujar Jimmy.

Akibatnya daya dorong fluida atau cairan itu dalam mekanisme hidrolis tidak akan terjadi. Hasilnya, rem akan blong dan keselamatan atau keamanan mobil dan seisinya terancam.

Lantaran itulah, bila sebelumnya Anda menggunakan minyak rem berspesifikasi DOT (Department of Transportation) 3, sebaiknya menggunakan DOT 4 atau bahkan DOT 5. Minyak dengan DOT 3 memiliki titik didih 100 derajat, DOT 4 titik didih 125 derajat, dan DOT 5 memiliki titik didih hingga 150 derajat.

“Harganya juga murah, kurang dari Rp 50 ribu per botol,” ucap Jimmy.


3. Pastikan knalpot bocor

Persoalan knalpot bocor jarang sekali mendapat perhatian. Padahal, bila pipa saluran gas buang hasil pembakaran itu bocor, gas CO2 akan masuk ke kabin.

Sementara, pada saat bersamaan, kabin tertutup rapat karena AC dinyalakan. “Bila orang menghirup gas CO2 akan mengalami keracunan. Terlebih bila yang menghirup pengemudi, keselamatan seisi mobil pun terancam,” ujar Jimmy.

Selain menjadi biang keracunan, pipa knalpot yang bocor juga akan menyebabkan tenaga mesin loyo. Sebab, tekanan gas buang yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk mendorong kembali udara ke ruang bakar ternyata terbuang percuma.

Walhasil, proses pembakaran pun berlangsung tidak sempurna, sehingga boros bahan bakar.

4. Perhatikan tekanan angin ban

Banyak orang melupakan atau lalai terhadap tingkat tekanan angin ban. Akibatnya, mobil melaju dengan tekanan angin yang kurang dari standar dan menyebabkan ban pecah di perjalanan. Korban pun tak bisa dihindari.

Karena itu, Jimmy mengingatkan agar sebelum melakukan perjalanan mudik menambah tingkat tekanan angin ban 2-4 psi. “Penambahan diperlukan seiring dengan bertambahnya beban yang diangkut mobil karena bertambahnya penumpang dan barang bawaan,” kata dia.

Selain membahayakan keselamatan tekanan angin ban yang kurang juga mengakibatkan mobil boros bahan bakar. Sebab, ban dengan tekanan angin yang kurang dari standar memiliki tingkat rolling resistance yang rendah, sehingga kala mobil berjalan ban menggelinding dengan lambat. Mobil pun butuh tenaga ekstra untuk memutarnya.


5. Imbangi pengereman manual dengan engine brake

Seiring dengan bertambahnya beban yang diangkut mobil, laju deselerasi atau proses mobil berhenti sejak pedal rem diinjak hingga benar-benar tak bergerak juga bertambah panjang. Bila dalam kondisi normal hanya 50 meter, dengan beban yang lebih mencapai 60 meter.

Karena itu, untuk menjaga keamanan sebaiknya imbangi pengereman konvensional itu dengan engine brake. Bagi pengemudi mobil bertransmisi manual, lakukan perubahan posisi gigi ke posisi lebih rendah dengan tuas kopling.

6. Maksimalkan akselerasi saat mendahului

Saat-saat menyalip atau mendahului kendaraan lain di saat jalanan padat dari dua arah merupakan saat yang krusial dan sangat berisiko. Karena itu, maksimalkan kemampuan akselerasi mobil.

Caranya, injak pedal gas dalam-dalam ketika ingin mendahului kendaraan lain. Jadi, bila dalam kondisi normal proses seperti itu hanya butuh putaran mesin pada 2.000 rpm, kali ini tingkatkan menjadi 3.000 rpm.

7. Perhitungkan laju mobil dengan jarak yang ada

Seiring dengan kondisi jalanan yang macet, sebaiknya menjaga laju mobil dengan kecepatan konstan. Hal itu dimaksudkan agar Anda bisa mengatur entak demi entakan gas mobil saat ingin bergerak maju.

Pasalnya, semakin sering mengentak gas dan kemudian mengerem dengan tiba-tiba, semakin sering pula semburan bahan bakar ke ruang bakar yang terbuang percuma. “Karena ketika pembakaran tinggi yang notabene banyak bahan bakar terbakar, tiba-tiba Anda mengeremnya kembali,” tutur Jimmy.

Karena itu dia menyarankan agar menginjak pedal gas dan rem seperlunya saja. Semua disesuaikan dengan jarak atau ruang yang tersedia, dan itu sangat tergantung pada kemampuan analisis Anda.