Akibat Tawuran, Pelajar Nakal Diborgol


Belum hilang dari ingatan, aksi premanisme pelajar SMA 6 yang menyerang sejumlah wartawan beberapa hari lalu. Kini, pelajar ibu kota kembali membuat ulah dengan melakukan aksi tawuran di kawasan Buaran, tepatnya di seberang Bioskop Buaran, Jakarta Timur.

Beruntung, aparat kepolisian bertindak cepat dan berhasil menangkap tujuh pelajar. Saat ini, ketujuh pelajar yang baru duduk di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) tersebut diamankan di Mapolsektro Durensawit.

RS (14), satu dari tujuh pelajar yang ditangkap tersebut kedapatan membawa senjata tajam berupa sebilah golok. Kepada petugas, pelajar SMPN 198 Kebonsingkong, Durensawit, ini mengaku senjata tajam itu titipan temannya bernama Eko. Ia sendiri sebenarnya sudah pulang ke rumah usai mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun mendengar teman-temannya tawuran dengan pelajar lain, bocah yang tinggal di Cipinangjagal RT 005/16, Cipinang, Pulogadung ini langsung bergegas menuju lokasi lokasi kejadian bersama teman-temannya yang lainnya.

”Golok ini bukan punya saya Pak, tapi milik AY, teman sekolah saya. Dia tadi nitipin dan langsung memasukkan golok ke tas saya,” ujar RS. Namun pengakuan RS tidak digubris petugas. Petugas tetap memborgol kedua tangannya dan menggiring ke Mapolsek.

Tawuran yang melibatkan sekitar 50 pelajar berseragam biru putih itu pecah sekitar pukul 15.00. Tak berlangsung lama, aksi tidak terpuji itu berhasil dibubarkan petugas kepolisian. Namun 30 menit kemudian tawuran kembali terjadi dan kali ini melibatkan sekelompok pelajar berseragam putih abu-abu yang diduga berasal dari SMK Bonser (Kebonsereh-red) dengan siswa SMP dan SMK Budaya, Durensawit.

Kali ini, salah satu pelajar Rangga (14), yang duduk di kelas 1 jurusan Otomotif, SMK Bonser, bonyok dihajar massa. Ia mengalami luka memar di bagian mukanya, bahkan hidungnya sempat mengeluarkan darah berkali-kali setelah dikeroyok warga yang geram melihat aksi tawuran tersebut.

Kapolsektro Durensawit, Kompol Titik Setiowati, mengatakan, kawasan pinggir rel KA Buaran memang kerap dijadikan ajang tawuran antar pelajar. Biasanya tawuran pecah di atas pukul 14.00. ”Kami melihat aksi tawuran pelajar ini ada provokatornya. Sebab mereka yang tertangkap membawa senjata tajam, umumnya mengaku bulan miliknya sendiri, melainkan titipan dari temannya. Kami masih memburu provokator di balik tawuran pelajar ini,” katanya. Pada hari Kamis (22/9) malam, pihaknya juga mengamankan 12 pelajar saat tawuran di lokasi yang sama.

Untuk mencegah terjadinya aksi tawuran itu, ia akan menempatkan enam petugas secara bergilir. Penjagaan dilakukan setiap hari, terutama saat jam rawan tawuran seperti pukul 14.00 – 17.00. Sementara mengenai pelajar yang diamankan itu, ia akan berkoordinasi dengan para orangtua murid dan guru atau kepala sekolah masing-masing.

Sementara itu, di Jakarta Pusat lima siswa yang terlibat penyerang terhadap wartawan, dihadirkan di gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, kemarin (23/9). saat mendatangi Dewan Pers, kelima siswa hanya berpakaian bebas tidak mengenakan seragam. Mereka didampingi kepala sekolah, Komite Sekolah, dan orang tua siswa. Sayangnya, pertemuan dilangsungkan secara tertutup.

Anggota Dewan Pers yang tampak hadir antara lain Uni Lubis, sedangkan dari SMA Negeri 6, Kepala Sekolah Kadarwati Mardiutami terlihat pula memasuki ruang yang sama.


source: JPNN