Inspirasi dari Ratu Kecantikan Penyandang Tuna Rungu

Hampir sepanjang usianya, Dian Inggrawati (27) menjadi penyandang tuna rungu. Namun, bukan berarti Dian lantas berkecil hati. Ia tak pernah patah semangat merajut masa depan yang penuh prestasi. Juni lalu, ia menjadi juara ketiga dalam ajang ratu kecantikan penyandang tuna rungu (Miss Deaf World 2011), yang diikuti para penyandang tuna rungu dari 38 negara. Inilah inspirasi dari seorang Dian Inggrawati...

Meski lahir di tengah keluarga yang sederhana dan dengan segala keterbatasannya, pada 2010 lalu Dian resmi diwisuda sebagai sarjana S1 setelah menyelesaikan studi di Fakultas Disain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi swasta, di Jakarta.

Wanita yang gemar menyantap kwetiau goreng ini bercerita, menjadi seorang disainer dan mempunyai butik adalah mimpi besarnya. Untuk itu, sebelum masuk masa kuliah, ia mengambil program studi tata busana di SMK Santa Maria Jakarta.

"Saya ingin punya butik dan menjadi disainer agar bisa memberdayakan teman-teman sesama tuna rungu," kata Dian, Kamis (15/9/2011), di Jakarta.

Sementara itu, Kepala SMK Santa Maria, Sri Purnami Mulyaningsih juga mempunyai kesan yang baik terhadap Dian. Ditemui di sela-sela kesibukannya, Sri mencoba kembali mengingat pribadi Dian saat masih bersekolah dulu.

Menurut Sri, meski tergolong siswa berkebutuhan khusus, namun Dian termasuk siswa yang cerdas, terutama dalam membuat disain busana dan mata pelajaran Matematika. Dian selalu masuk peringkat 3 besar di sekolahnya.

Selain itu, Dian juga mempunyai semangat dan inisiatif tinggi ketika ada kesulitan dengan materi-materi yang dipelajari.

"Dian secara prestasi akademik termasuk cerdas. Meski berkebutuhan khusus, tetapi tetap diberikan tes yang sama dengan siswa lainnya ketika mendaftar di sekolah ini," kata Sri.

Cerita lainnya datang dari sang ibunda, Ida Hermawan. Ia mengungkapkan, untuk mewujudkan cita-citanya, secara langsung Dian meminta ibunya agar menyekolahkan dirinya di sekolah kejuruan (SMK). Akhirnya, dengan alasan agar anaknya kelak dapat mempunyai keterampilan khusus dan hidup mandiri, ia pun mewujudkan keinginan anaknya tersebut.

"Saya berpikir ia harus mempunyai keterampilan, agar dia bisa mandiri dan siap di masa depan," kata Ida.

Dalam kontes "Miss Deaf World 2011" di Praha, Dian menunjukkan kepiawaiannya dalam seni tari Betawi. Di akhir aksinya, ia membentangkan spanduk kecil bertuliskan "Deaf No Problem". Aksi tersebut langsung disambut antusias dengan tepuk tangan. Ia pun berhasil menjadi juara ketiga (runner up 2) Miss Deaf World 2011 dan diproyeksikan menjadi duta pendidikan inklusi oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).


source: Kompas