LPI, Antara Industri Olahraga dan Karakter Bangsa

OPINI oleh:
KOMITMEN pemerintah untuk membangun atlet-atlet muda berbakat diwujudkan antara lain dengan kembali menggelar Kompetisi Sepak Bola Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Liga antarpelajar yang memperebutkan piala Presiden tersebut digelar serentak di empat kota, yakni Tangerang, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Kick-off pertandingan pertama putaran final sendiri dimulai serentak pada 14 September 2011, dan akan berakhir pada 21 September 2011. Setelah putaran final nasional, dua besar di masing-masing wilayah akan melangkah ke babak 8 besar dan grand final yang akan digelar di kota Bandung.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bersama Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemnegpora), dan PSSI untuk mencetak bibit-bibit unggul dalam olahraga sepak bola. Sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Juni 2009, LPI menjadi wadah pembinaan dan pengembangan olahraga sepakbola berbasis sekolah.

Dari kompetisi ini sudah melahirkan banyak pemain berprestasi yang terpilih masuk dalam Tim Nasional U-16, seperti Rendy Refsanyami (SMPN 1 Sekayu Muba), Setian David Maulana (SMPN 13 Semarang), Rahmat Hamka (SMPN 3 Kota Ternate) danTerens Owang Puhiri (SMPN 6 Jayapura) sedangkan yang masuk Tim Nasional U-18 (SAD Uruguay) adalah Wawan Febriyanto (SMA Darussalam, Tangerang Selatan - Banten), Hadi Wibowo (SMA Bangkalan, Madura – Jawa Timur) dan Antony Nugroho (SMAN I Sekayu, Musi Banyuasin – Sumatera Selatan)

LPI boleh dikatakan sebagai kompetisi antarsekolah yang pertama di dunia. Oleh karena itu, Kemdiknas berharap agar kompetisi antarpelajar ini juga bisa digelar di tingkat ASEAN, sehingga even kompetisi akan semakin banyak dan bisa mengasah para pelajar Indonesia untuk menjadi atlet profesional. Bahkan, Kemdiknas berharap kompetisi semacam LPI bisa membangun langkah yang sistematis untuk menjadi industri olahraga di tanah air.

Namun, LPI tetap tidak akan mengalami disorientasi dari misi awalnya. Sejak awal LPI dirancang selain mencetak prestasi dalam olahraga, juga sebagai wadah pembinaan dan pembangunan karakter. Mengapa demikian? Karena, olahraga mampu membentuk mental kompetitif, sportivitas dan kebersamaan para siswa.

Selain itu, LPI merupakan pola pembinaan yang merujuk pada integrasi sepakbola dan pendidikan. Kemdiknas berani memastikan bahwa pelaksanaan LPI tidak mengganggu jadwal akademik di sekolah. Sebab, pelaksanaannya di luar waktu belajar para peserta didik. Selain itu, kompetisi ini dilakukan berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Semakin tinggi tingkatannya, maka makin sedikit pesertanya karena mereka mewakili daerahnya masing-masing.

Setiap pertandingan pun akan direkam dalam sistem informasi LPI. Sejak pertandingan di tingkat kabupaten dan kota, para atlet sudah dimonitor. Dengan sistem ini, prestasi setiap individu akan terekam dengan baik. Sehingga, kompetisi ini juga akan mempermudah proses integrasi industri ke dalam olahraga sepak bola. Salah satu penyebab kurang berkembangnya olahraga di Indonesia adalah banyak klub yang belum mandiri dan bergantung pada APBD. Mereka belum menjadi klub profesional yang menerapkan prinsip-prinsip industri dalam manajemennya. Oleh karena itu, LPI bisa dijadikan solusi untuk membangun industri olahraga nasional, dengan menyiapkan kader atlet atlet terbaik di negeri ini.

Di sampin itu, LPI dirancang untuk memberikan akses bagi para peserta didik untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi olahraga sepak bola guna mengaktualisasi potensi dan kemampuan diri menuju prestasi puncak mereka. Pemain berbakat akan diidentifikasi dan dikembangkan lebih lanjut dalam suatu sekolah khusus sepakbola atau disebut school of execellent.

Bayangkan liga ini akan melibatkan 50.000 sekolah dengan satu juta pemain seluruh Indonesia, 20.000 wasit, 50.000 pelatih, dan jutaan penonton. Dari kompetisi ini akan lahir puluhan pemain bintang. Untuk itu, Kemdiknas tidak hanya memberi hadiah, juga menyiapkan penghargaan akademik kepada sejumlah pemain terbaik mulai tingkat SD, SMP, dan SMA. Pemerintah akan merekomendasikan kepada setiap satuan pendidikan agar mau menerima para pemain tersebut. Untuk siswa SD dipermudah masuk ke SMP. Siswa SMP juga dimudahkan ke SMA. Kemudian, siswa SMA ke perguruan tinggi.

Dengan demikian, LPI diharapkan selain bisa membangun karakter peserta didik yang menjungjung sportivitas dan semangat kebersamaan, juga mempersiapkan mereka menjadi atlet-atlet masa depan. Para atlet yang berada dalam tingkat SMP misalnya masih memiliki waktu yang panjang untuk bisa produktif. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk menjadi atlet profesional masih terbuka lebar, apalagi atlet-atlet terbaik akan diikutsertakan oleh PSSI dalam seleksi Tim Nasional U-16. Inilah kader-kader atlet nasional yang akan mengharumkan nama bangsa.

Selamat berkompetisi dengan sportivitas dan semangat kebersamaan!


source: Kemdiknas