UNESCO: Dunia Masih Butuh 8,2 Juta Guru

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Unesco David Atehoarena mengatakan, the Unesco Institute Statistic (UIS) memperkirakan, di berbagai belahan dunia masih memerlukan 8,2 juta tenaga guru dari kurun waktu 2009 sampai 2015. Hal itu disampaikannya di sela-sela acara Third Internasional Policy Dialogue Forum, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Selasa.

"Kekurangan guru sebanyak itu perlu dapat dipenuhi guna mencapai universal primary education, yakni kondisi seorang guru mengajar 40 orang siswa dalam satu kelas," kata David.

Dia mengatakan, saat ini angka rasio guru itu masih sangat jauh dari kenyataannya. Sebagai contoh, di wilayah sub-Sahara Afrika yang merupakan wilayah kesenjangan guru terbesar, rasionya masih jauh dari ideal.

David menjelaskan, di wilayah tersebut memerlukan tenaga pengajar sebanyak 1,2 juta. Selain memerlukan guru, di daerah tersebut masih harus mencari pengganti 933.000 guru yang ingin meninggalkan profesi mereka.

Sementara itu, Ananto Kusuma Seta, Co-chairs of the International Task Force on Teachers for EFA mengatakan, kegiatan seperti ini pertama kali diadakan di Addis Ababa, Ethiopia pada Februari 2010 dengan memfokuskan pembahasan kualitas para guru.

"Sedangkan pada forum ketiga ini pembahasan difokuskan pada pembahasan isu-isu guru yang berkembang di wilayah Asia Fasifik," ujarnya.

Seta menjelaskan, pertemuan forum tingkat internasional itu dilaksanakan 13-14 September 2011 dengan tujuan mengumpulkan berbagai pemangku kebijakan untuk membahas tentang hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan pemerataan guru.

Selain itu, melalui forum ini diharapkan dapat terjalin kerja sama antarpemangku kebijakan dengan para ahli untuk memperkuat advokasi serta mempromosikan pengembangan kebijakan pendidikan di masing-masing negara.

Task Force merupakan perhimpunan berbagai lembaga di tingkat global yang berfokus pada pendidikan untuk semua kalangan dalam rangka mengatasi kesenjangan jumlah guru.

"Task Force bukanlah lembaga donor atau penyedia bantuan teknis. Lembaga ini bertujuan menyembatani berbagai instansi lainnya dalam mengatasi masalah kesenjangan guru melalui kegiatan pertemuan tingkat tinggi bagi pembuat kebijakan," kata Seta.


source: Kompas