Inilah 35 Sarjana Perdesaan Dilatih di Bogor

Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga melaksanakan program pelatihan untuk sarjana penggerak pembangunan perdesaan di Jawa Barat pada 2011. Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Prof Bambang Pramudya di Bogor, Kamis (13/10/2011), menjelaskan, pelaksanaan pelatihan pembekalan bagi peserta dilakukan 12-18 Oktober 2011.

Pelatihan dipusatkan di Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) LPPM-IPB dan Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) TNI AD Bogor.

Ia menjelaskan, pelatihan dikuti 35 sarjana yang berasal dari enam provinsi yaitu Banten sebanyak enam orang, Yogyakarta delapan orang, DKI Jakarta tiga orang, Jawa Tengah enam orang, Jawa Timur enam orang, dan Kalimantan Barat sebanyak enam orang.

Menurut Bambang Pramudya, peserta pelatihan diharapkan dapat memanfaatkan pembekalan sebaik-baiknya.

"Pelatihan ini banyak manfaatnya, tidak hanya pelatihan yang sifatnya materi namun juga materi-materi yang bersifat fisik seperti disiplin diri," katanya.

Bambang mengatakan, setelah mendapatkan pelatihan ini para sarjana ini akan ditugaskan selama dua tahun di lokasi pendampingan sesuai penempatan masing-asing, yakni di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang.

Lokasi di Kabupaten Bandung meliputi empat kecamatan dan delapan desa yaitu Kecamatan Ciparay (Desa Cikoneng dan Desa Ciparay), Kecamatan Nagrek (Desa Citaman dan Desa Nagrek), Kecamatan Cicalengka (Desa Cikuya dan Desa Cicalengka) serta Kecamatan Cileunyi (Desa Cimekar dan Desa Cinunuk).

Di Kabupaten Subang meliputi empat kecamatan dan tujuh desa, yaitu Kecamatan Jalan Cagak (Desa Bunihayu dan Desa Cimanglid), Kecamatan Sagala Herang (Desa Cijengkol dan Desa Dayeuh Kolot), Kecamatan Ciater (Desa Ciater dan Desa Palasari), serta Kecamatan Cijambe (Desa Cijambe).

Selama dua tahun itu, kata dia, mereka akan mendapat insentif sebesar Rp 2,5 juta per bulan dan dana stimulus untuk modal usaha sebesar Rp 5 juta yang akan dibayarkan pada awal tahun.

Sementara itu, Asisten Deputi Kepeloporan Pemuda pada Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora Muhammad Abud Musa’ad menyatakan, pada 2011 Kemenpora bekerjasama dengan tiga perguruan tinggi, salah satunya IPB.

"Diharapkan dengan hadirnya perguruan tinggi akan memberikan nuansa dan bobot yang lebih dibandingkan dengan program sebelumnya," katanya.

Dengan pelatihan ini, kata Musa, para pemuda sarjana ini dapat mempercepat pengembangan pembangunan di Indonesia. Menurut dia, ada tiga tugas yang harus dilakukan peserta ketika turun ke desa yakni menjadi penggerak dan pendamping.

Kedua, memberdayakan masyarakat, dan ketiga menciptakan kemandirian masyarakat.

"Saya berharap program ini menjadi semacam pilot project karena pada tahun ini ada keterlibatan perguruan tinggi dan pesertanya lintas provinsi," jelas Musa.


source: Kompas