Kemana Fasli Jalal Setelah Tidak Menjabat Wamendiknas

BLOGGER LPMP GORONTALO | Matoduwolo
Sebagaimana diketahui, drama reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II memang sudah berakhir. Bahkan, kemarin (19/10) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah melantik menteri, wakil menteri dan pejabat setingkat menteri pilihannya. Namun, ada salah satu nama seakan-akan hilang dari peredaran, siapa lagi Fasli Jalal, mantan Wamendiknas, bagaimana posisinya sebenarnya?

Nyaris nama Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) hilang dari peredaran di tengah hingar-bingar reshuffle kabinet. Padahal, publik mengetahui bahwa Fasli termasuk salah satu pejabat Kemendiknas yang menduduki posisi strategis (wamendiknas, red).

Ketika mantan Rektor Unand Musliar Kasim sudah dipanggil SBY ke Puri Cikeas, Bogor, Jumat (14/10) lalu untuk menjadi Wamendikbud Bidang Pendidikan, publik masih beranggapan Fasli masih Wamendiknas. Apalagi pemerintah sendiri mengatakan, wakil menteri pendidikan dan budaya jadi dua, bidang pendidikan dan kebudayaan.

Namun, sehari setelah itu publik baru mengetahui bahwa posisi Fasli selaku wamendiknas mulai terancam. Ini seiring dipanggilnya Wiendu Nuryanti, guru besar Fakultas Teknik UGM Yogyakarta ke Puri Cikeas untuk menduduki posisi Wamendikbud Bidang Kebudayaan. Namun, lagi-lagi tidak ada informasi pasti soal posisi Fasli. Baru saat SBY mengumumkan formasi KIB jilid II, tak ada nama Fasli di situ. Saat itulah baru diketahui Fasli kena reshuffle, tanpa mengetahui penyebabnya.

Ketika dihubungi Padang Ekspres kemarin (19/10), Fasli mengakui dirinya tidak lagi menjadi wamendiknas, termasuk juga jabatan Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) yang dijabatnya sejak Jumat (5/8) lalu. Semuanya sudah diserahkan kepada Mendiknas M Nuh.

”Kemarin (Selasa, 18/10), saya sudah menyerahkan jabatan di Kemendiknas kepada Mendiknas, termasuk jabatan Plt PAUDNI. Begitu juga, ruangan kantor juga sudah saya bersihkan. Sekarang saya sudah bebas,” kata Fasli berseloroh.

Secara jelas, Fasli mengaku, tak ada pihak Istana maupun internal Kemendiknas menghubunginya soal reshuffle. Sabtu (15/10) pagi, menurut Fasli, memang ada salah seorang ajudan Istana menghubunginya. Waktu itu, ia tengah menjadi narasumber dalam acara Dewan Pendidikan di Aceh.

”Waktu itu, sang ajudan tak ada menyebut-nyebut soal reshuffle kabinet. Malahan waktu itu, ia mengapresiasi kinerja saya selama di Kemendiknas,” kata Fasli. Setelah itu, ia mengaku tak ada lagi kontak dengan pihak Istana. Diakuinya, tak ada terbersit di pikirannya bahwa dia akan kena reshuffle. Begitu juga ketika dia kembali ke Jakarta. Tetap tak ada informasi soal reshuffle.

Setelah tak ada kejelasan, barulah dirinya merasakan sendiri bakal kena reshuffle. Senin dan Selasa (17-18/10), dia mulai beres-beres di kantornya. Sampai Selasa (18/10), ia memutuskan menyerahkan jabatannya di Kemendiknas kepada Mendiknas.

”Saat itu saya katakan sama Pak Menteri, terima kasih atas kepercayaan dan dukungannya selama ini. Khusus jabatan Plt Dirjen PAUDNI, menurut saya tak elok dipegang pejabat tak aktif lagi. Itulah sebabnya, saya juga mengundurkan diri dari jabatan Plt PUDNI tersebut. Waktu itu, mendiknas memahami posisi saya,” beber Fasli.

”Saya legowo menerima semua ini, cuma caranya kurang mengena di diri saya,” ujar Fasli. Baginya, promosi, demosi dan rotasi itu merupakan hal yang biasa di birokrasi. Tidak selalu semua terjadi karena alasan yang bisa dimengerti. Semua itu harus dijalani dengan hati yang bersih, sikap legowo dan penuh rasa syukur.

Skenario terbesar itu, jelas Fasli, hanya Allah yang tahu. Manusia hanya bisa menjalaninya saja. ”Untuk itu, life goes on dan pada waktunya akan kembali seperti biasa. Saya akan meneruskan pengabdian untuk memajukan pendidikan akan negeri tercinta ini melalui jalur profesional,” ungkap Fasli.

Selama ini, Fasli mengaku, dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Mendiknas, termasuk Wapres Boediono. Soal kasus dugaan korupsi proyek pengadaan alat bantu belajar-mengajar di Kemendiknas Tahun Anggaran 2007 yang membelit anak buahnya saat menjadi dia menjabat Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMTK), menurutnya sudah dibeberkannya kepada penyidik selaku saksi.

Soal Musliar Kasim jadi Wamendikbud, menurut Fasli patut disyukuri. Apalagi sudah dua kali, alumni Unand menduduki posisi strategis di jajaran Kemendikbud. ”Kepercayaan menjadi wamendikbud, mari kita jaga dan dukung bersama. Semua perlu proaktif, jangan hanya mengandalkan pemerintah,” imbuh Fasli.