Kriminalitas Terhadap Guru Cantik

Media cetak maupun elektronik tidak henti-hentinya memberitakan kasus yang menimpa guru cantik, Vini Noviani, Guru bahasa inggris di SDN Regol Kiansantang, Kabupaten Garut. Vini ditetapkan sebagai tahanan kejari Garut sejak 19 september 2011 dan langsung ditahan serta dititipkan ke Lapas kelas II B Garut. Tiga hari kemudian, berkas kasus dugaan penganiayaan itu dilimpahkan ke pengadilan. Kejari Garut meminta PN Garut mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan terdakwa di lapas II B Garut.(Pikiran-Rakyat, 8/10) Kejadian ini menarik simpatik dan empati publik, dari mulai pejabat, gubernur, bupati hingga para guru dan pelajar.

Peristiwa ini terjadi dengan motif dugaan penganiayaan yang dilatarbelakangi utang piutang. Penahanan yang begitu cepat ini amat disayangkan oleh khalayak publik bahkan menuai reaksi dari berbagai kalangan, selain para guru, orang no 1 di kabupaten Garutpun mengakui bahwa kasus yang menimpa vini telah diserahkan ke pengadilan. Mengetahui hal ini Gubernur Jawa Barat mengirimkan bantuan berupa tim untuk pendampingan hukum bagi Vini. Akibat penahanan ini, kegiatan belajar mengajar di Sekolah tersebut menjadi terlunta-lunta, apalagi setelah diketahui bahwa Ibu Vini merupakan satu-satunya Guru Bahasa Inggris dari kelas 1-3.

Aksi simpatik terus dilakukan oleh para pelajar di kabupaten Garut hingga kini, seperti doa bersama, istighasah dan penggalang dana. Mereka berbondong-bondong menggelar doa untuk ibu Vini supaya diberikan kesabaran dalam menghadapi ujian. Di Bandung, Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) dan Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI), mengadakan aksi simpatis dan memprotes atas kejadian yang dialami Vini di depan Gedung Sate. Selain itu para demonstran juga mengadakan penggalangan dana dengan tema Koin Untuk Guru Vini.

Tema ini menjadi daya tarik bagi para demonstran dalam upaya menyentuh hati masyarakat. Sebab, berkaca pada peristiwa yang menimpa Prita Mulyasari sejak beberapa bulan yang lalu, dukungan penuh dan simpati publik dapat dengan mudah diraih.

Peristiwa yang dialami oleh Vini merupakan salah satu gambaran kecil dari permasalahan guru di Republik ini, masih ingatkah kita dengan peristiwa Ardi Umar seorang guru SMA di kabupaten Banggai Sulawesi tengah sebulan lalu. selain dilaporkan kepada pihak yang berwajib karena telah menganiaya siswa, ia juga mendapat perlakuan yang tidak manusiawi oleh orang tua siswa, begitupun guru honorer di MTsN di Kota Bima, Padolo Syafrudin S.Pd.i yang mendapatkan bogem mentah dari orang tua siswa dan berbagai kriminalisasi-kriminalisai lain yang acap kali kerap dialamatkan kepada Guru

Melihat realita demikian, timbul pertanyaan dalam hati ini, Mengapa salalu guru yang disalahkan? Mengapa Insiden kecil harus dibawa-bawa ke meja hijau bahkan hingga ke jeruji besi? Apakah tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, seperti dengan musyawarah yang dapat menumbuhkan keakraban dan silaturahmi antara guru dan orang tua siswa. Padahal selama ini yang dilakukan oleh guru tiada lain adalah pembinaan bagi siswa.

Kejadian ini membuat banyak orang miris dan risau akan nasib guru saat ini, rasanya istilah Guru yang kerap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kini telah raib. Aspirasi guru telah dikebiri, Meskipun memiliki payung hukum yakni Undang-Undang Guru dan Dosen tahun 2005 yang memberikan kewenangan mandat dan perlindungan kepada para pendidik. Tak ubahnya seperti barang rongsokan.

Kalau kita cermati lebih dalam berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa, “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Sekali lagi Sayang seribukali sayang, Undang-Undang tersebut tak mampu melindungi Guru dalam menjalankan Profesinya. Hantaman berbagai ujianpun tak dapat di elakan lagi. Kalo guru boleh menjerit, maka ia akan menjerit, kemana aku harus mengadu?

Semua orang sependapat bahwa Tanggung jawab yang dipikul oleh guru amat besar, setiap ucapan dan tindakan harus mampu menjadi panutan bagi murid-muridnya. Bahkan Keberhasilan suatu pendidikan ditentukan seberapa besar peran guru terhadap profesionalisme dalam mendidik. Masa depan bangsa ini ada pada generasi muda, generasi muda akan baik bila para guru mendidiknya baik pula. dengan meminjam istilah Prof Dr R Mohamad Surya bahwa kalau tentara satu gugur tumbuh seribu, tapi satu guru gugur sama dengan 1.000 murid kehilangan masa depan.

Allah Swt menghibur kita dalam Al-Quran bahwa belum dikatakan orang beriman apabila belum diuji dengan berbagai ujian, baik ujian itu berupa kekayaan, kemiskinan masalah, konflik, dan musibah. Tak luput dari itu Anak istri kita, pangkat, dan jabatan bahkan disekeliling kita adalah ujian. Apakah dengan ujian itu kita bertambah baik atau buruk, apakah kita diuji itu akan bertambah keyakinan kita terhadap Allah atau malah berputus asa. Semua ini Tergantung seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah dan sabar menjalani kehidupan.

Akhirnya, setiap peristiwa akan selalu ada hikmah, dan hikmah tersebut akan jadi suatu manfaat bagi kita bila kita sungguh-sungguh merenungkan dan memahami segala peristiwa. Kejadian yang menimpa Vini Noviyani, kelak akan menjadi bekal pelajaran yang amat berharga bagi kita dalam menjalani luasnya samudra kehidupan. Maka bersungguh-sungguhlah dalam setiap pekerjaan karena pepatah berkata man jadda wa jadda (orang yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaan akan menuai hasil)

Kita semua berharap, peristiwa yang sedang dialami Vini diberikan jalan keluarnya yakni tentu yang terbaik dimata Allah SWT. kita harus optimis bahwa, Segala kesulitan, disana terdapat berjuta pintu.



source: Kompas