Mahasiswa Koruptor Masa Depan


Mahasiswa mana, yang tidak pernah mendengarkan ketiga fungsinya tersebut. Baru saja memijakkan kaki di sebuah perguruan tinggi, Mahasiswa sudah mulai di perkenalkan dengan fungsinya sebagai penyampai kebenaran, agen perubahan dan sebagai generasi penerus masa depan.

Namun miris terasa hati ini ketika melihat kebanyakan mahasiswa sekarang, paham akan fungsinya sebagai penyampai kebenaran tapi jarang berbuat benar. Mereka berusaha melakukan perubahan terhadap bangsa ini tapi tidak pernah merubah dirinya. Kebanyakan mahasiswa lupa akan fungsinya yang ketiga “Penerus Masa Depan”. Mahasiswa seakan-akan terlelap oleh euforia memasuki dunia kampus, ia lupa bahwa nantinya ia akan menjadi seorang yang membenarkan, seorang yang merubah masa depan bangsa ini.

Mahasiswa seakan-akan lebih sibuk mengurus penguasa yang curang, pemeras, penipu, penyalahgunaan kekuasaan, dari pada melihat dirinya sendiri yang juga pelaku kecurangan dan penipuan. Dengan ketidaksadarannya itu pula, mahasiswa tidak tahu bahwa dirinya sama saja dengan orang yang mereka urus (koruptor).

Mahasiswa dan DPR Pembolos
Bolos tanpa alasan yang jelas adalah penyakit mahasiswa saat ini. Mahasiswa hampir sama saja dengan para angota DPR, yang bolos sewaktu seharusnya memikirkan nasib rakyat. Lebih parahnya lagi, mahasiswa pembolos, sering berkomentar atas tindakan Para anggota DPR yang bolos. Padahal keduanya sama-sama pembolos dan sama-sama pemakan uang Negara.

Lebih kurang 20 persen dari APBN digunakan untuk membiayai pendidikan, dengan tujuan supaya generasi saat ini, bisa merubah masa depan bangsa kerah yang lebih baik. Tapi apa yang kita lihat, kebanyakan mahasiswa lebih senang membolos tampa tujuan yang jelas dengan mencampakkan uang rakyat secara percuma . (Apakah ini tidak korupsi?).

Mahasiswa dan Kasus Andi Nurpati
Pemalsuan Surat MK pada Kasus Andi Nurpati adalah isu yang sering dikomentari oleh mahasiswa. Akan tetapi tidak sadar, bahwa yang paling sering melakukan pemalsuan tanda tangan, daftar kehadiran dan surat adalah Mahasiswa. Baik bertindak sebagai Pleger (Pelaku), Deon Pleger (Penyuruh), Mendeplictige (Pembantu) ataupun sebagai Oitlokker (Pembujuk melakukan ).

Dengan semua kahliannya mahasiswa berusaha menipu dosen. Padahal sebenarnya mereka menipu dirinya sendiri. Untung saja negara ini tidak menetapkan sanksi bagi mahasiswa pelaku pemalsuan.
Mahasiswa dan Polantas

Ketika mahasiswa tertangkap tangan melakukan pelanggaran lalulintas oleh aparat penegak hukum, ketika surat tilang hendak dikeluarkan, mahasiswa dengan semua akal bulusnya berusaha melakukan tawar menawar dan akhirnya menyogok pihak aparat. Namun yang sangat menghinakan adalah setelah dia menyogok, dia sampaikan kepada teman-temannya, “Aparat itu Keparat”.

Padahal penyogok dan yang disogok berada dalam posisi yang sama, Berdasarkan Pasal 5 Ayat 1 Huruf (a) UU Nomor 20 Tahun 2001, setiap orang yang menyogok berarti telah melakukan tindak pidana korupsi. Apa bedanya mahasiswa penyogok dengan aparat yang disogok ? Untung saja UU tentang Pemberantasan Tipikor, tidak menjangkau korupsi kelas teri.

Mahasiswa, Gayus atau Nazarudin
Siapa yang tidak tersentak oleh kasus kecurangan yang dilakukan oleh petugas pajak (Gayus Tambunan) atau dugaan kecurangan yang dilakukan M Nazarudin. Kasus-kasus yang sempat menggegerkan media masa berbulan-bulan lamanya. Seandainya media masa juga tertarik akan kecurangan-kecurangan yang dilakukan mahasiswa pastilah tidak akan habis-habisnya, berita tentang kecurangan yang dilakukan mahasiswa. Mulai dari mencontek , sampai kepada melihat jimat sewaktu ujian.

Masih banyak Praktek-praktek korupsi lainnya yang dilakukan mahasiswa seperti memanfaatkan kedudukan atau jabatan orang tuanya di perguruan tinggi. Memanfaatkan kekayaan untuk menyogok, memanipulasi identitas supaya medapatkan beasiswa, dan banyak lainnya. Yang pada akhirnya menjadikan mahasiswa tidak lebih dari seorang koruptor.

Sangat ironi memang ketika mahasiswa turun ke jalan dalam aksi menegakkan pilar demokrasi yang anti korupsi, dengan semangat dan lantangnya mereka berkoar-koar di instansi-instansi pemerintah. Namun ketika dilihat bagaimana keseharian, kepribadian serta moral mahasiswa tersebut kebanyakan dari mereka tidak lebih dari seorang koruptor. Mungkin saja mereka akan menjadi koruptor-koruptor kelas kakap, pada masa mereka menjadi penguasa.

Seandainya mahasiswa sadar bahwa mereka adalah iron stock, generasi penerus masa depan, dia adalah penguasa-penguasa masa depan, dia adalah orang yang memegang tujuan bangsa ini, maka sudah menjadi sebuah keharusan mahasiswa untuk berbenah diri, memperbaiki moral yang sudah sangat bobrok ini. Jika tidak tunggu saja 15-20 tahun lagi, akan muncul para koruptor-koruptor baru yang lebih sadis dari saat ini. Kondisi bangsa ini akan tetap, bahkan lebih parah lagi.

Tulisan ini bukan bertujuan menghilangkan fungsi kontrol Mahasiswa terhadap Penguasa (eksekutif, legislatif dan yudikatif) . Akan tetapi disamping kita (mahasiswa) berusaha melakukan perubahan terhadap terhadap bangsa ini, bertekad untuk memberantas korupsi, kita juga harus membenahi moral koruptor, mental koruptor dan prilaku koruptor yang mungkin sudah melekat dan mendarah daging dalam keseharian.

Agar nantinya cita-cita mewujudkan masyarakat madani, Walfare Staat (Negara kesejahtraan) dan terbebasnya Indonesia dari korupsi bisa kita wujudkan di masa mendatang, di masa kita (mahasiswa) yang menjadi penguasa.