Mendikbud Jelaskan Tugas Kemendikbud pada Sidang Unesco

Tujuan utama dari pendidikan dan kebudayaan adalah untuk memperbaiki standar kehidupan umat manusia. Sedikitnya ada tiga sisi bisa dilakukan, meliputi sisi ekonomi, sosial, dan sisi lingkungan.

Demikian diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh dalam sesi awal kegiatan Sidang Umum Unesco di Paris, yang berlangsung mulai 25 Oktober hingga 5 November mendatang di Paris, Francis.

“Dari sisi eknomi, peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui pengajaran dan pembelajaran sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dari sisi sosial, melalui upaya membangun kehidupan yang lebih damai dengan menanamkan konsep yang selaras dengan masyarakat sekitar kita, sedang dari sisi lingkungan, membangun hidup sehat dengan menanamkan konsep yang selaras dengan alam,” katanya.

Dalam sidang umum Unesco yang salah satu agendanya pemilihan pimpinan eksekutif untuk jangka waktu lima tahun ke depan, Indonesia, dalam hal ini Mendikbud, Mohammad Nuh, diusulkan untuk menjadi salah satu ketua pada badan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan itu.

Nuh mengatakan, hal terpenting dari tiga sisi itu adalah bahwa masing-masing sisi saling bergantung satu sama lain. Sebagai contoh, katanya menjelaskan, sangat mustahil bagi suatu negara untuk makmur secara ekonomi ketika negara tersebut memiliki masalah sosial seperti konflik-konflik rasial.

“Dengan fakta itulah, maka kita perlu melihat kembali definisi toleransi. Saat ini toleransi sedang dianggap sebagai salah satu unsur paling penting dalam kreativitas diluar dari talenta dan teknologi. Kita tidak hanya harus bersikap toleran tapi kita juga perlu menjadi toleran untuk membuka-pikiran, berekspresi, dan ide-ide baru, karena hal ini akan memancing penemuan baru, rancangan bisnis dan banyak solusi lain untuk masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia saat ini,” katanya.

Dengan mehamai makna toleransi, kata mantan Rektor ITS ini menambahkan, kita bisa mencegah konflik rasial, etnis, budaya, dan spiritual untuk membangun kehidupan damai dan secara beriringan, sekaligus dapat membangun masyarakat yang kreatif untuk meningkatkan produktivitas.



Nilai Kejujuran

Pada bagian lain penyampaian gagasan dan pendapatnya, Nuh juga menyinggung tentang pentingnya nilai kejujuran ditanamkan dalam konsep pembangunan untuk mempromosikan pembangunan damai dan berkelanjutan. “Saya melihat, peristiwa yang terjadi sejak dekade terakhir ini, dalam hal kerusakan yang ditimbulkan, disebabkan oleh tidak adanya kejujuran. Ini terekam dalam berjuta bentuk, perang, konflik sosial, krisis ekonomi, krisis lingkungan dan lainnya,” katanya.

Dikatakan Nuh, seperti peribahasa yang terkenal "untuk sebuah kemajuan yang sukses, kejujuran harus lebih diutamakan dalam hubungan masyarakat, karena alam tidak bisa dibodohi."

Peribahasa ini, kata mantan Menkominfo ini juga, berlaku untuk rancangan bisnis, kebijakan pemerintah, dan lainnya, karena tidak hanya alam, masyarakat pun tidak bisa dibodohi. “Pentingnya toleransi dan kejujuran ini merupakan kebutuhan pendidikan karakter yang menjadi bagian dari kurikulum sekolah yang tertanam dalam setiap mata pelajaran dan diajarkan pada semua tahap pendidikan, terutama pada tahap awal,” katanya.

Karena itulah Mendikbud mengajak sekaligus mengingatkan, bahwa secara keseluruhan, sudah semestinya kita tidak boleh melihat masalah dunia sebagai masalah lokal, tapi sebagai masalah global. Seperti tubuh kita, jika salah satu bagian tubuh menderita, semua bagian lain akan berbagi penderitaan tersebut.

“Hal ini menjadi tanggung jawab masyarakat dunia untuk berkolaborasi dalam memecahkan masalah dunia. Kolaborasi juga harus selalu didorong oleh hal yang saling menguntungkan dan didasarkan pada saling pengertian dan saling menghormati semua pihak yang terlibat,” katanya.


source: Kemdikbud