Mendikbud M.Nuh Paparkan Dua Agenda Utama

Sekitar pukul 09.00 WIB pagi tadi (19/10)Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan didampingi Wakil Presiden Boediono melantik Mohammad Nuh sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) bersama dengan 11 orang menteri hasil reshuffle, di Istana Negara, Jakarta.

Kesemua menteri tersebut dilantik berdasarkan Keppres No.59/P/Tahun 2011.Usai melantik para menteri, Presiden SBY juga melantik Inspektur Jenderal Kemdiknas Musliar Kasim sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan dan Wiendu Nuryanti sebagai Wamendikbud Bidang Kebudayaan. Pelantikan ini dilangsungkan bersama 11 orang wakil menteri baru berdasarkan Keppres No. 159/M/Tahun 2011.

Mendikbud M. Nuh menyampaikan, ada beberapa konsekuensi yang segera diselesaikan terkait perubahan fungsi dari Kemdiknas menjadi Kemdikbud. Mendikbud menyebutkan ada dua agenda utama kementerian baru ini yaitu terkait keorganisasian dan substansi.

Untuk urusan keorganisasian, kata Mendiknas, akan ada dua direktorat jenderal yang selama ini menangani terkait dengan kebudayaan sebagai bagian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan masuk di Kemdikbud di dalam Direktorat Jenderal Kebudayaan.

“Dua ditjen kita merge kita padatkan jadi satu ditjen. Harus kita selesaikan urusan keorganisasian,” katanya saat memberikan keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (19/10).

Mendikbud menambahkan, dengan adanya satu direktorat jenderal baru maka akan diselesaikan juga terkait dengan kepegawaian, tugas pokok dan fungsi, dan ukuran kinerjanya.

“Harus disusun APBN 2012 sudah memasukkan organisasi yang baru itu. Insya Allah bisa diselesaikan dalam dua bulan. DPR secara umum sudah memberi persetujuan perubahan nama dari Kemdiknas menjadi Kemdikbud,” katanya.

Sementera terkait agenda substansi, Mendikbud menjelaskan, selama ini ada pandangan bahwa budaya tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan ekonomi.

Pandangan lain menyatakan kebudayaan jangan dijadikan faktor ekonomi, tetapi sumber nilai yang melekat di dalam manusia.

“Kebudayaan sebagai tuntunan terkait dengan nila , tetapi kebudayaan sebagai tontotan bagian dari sumber ekonomi dan itu tidak boleh dipisahkan,” katanya.Menurut Mendikbud, budaya sebagai tuntuntan masuk pendidikan, tetapi sebagai tontonan masuk pariwisata sebagai sumber ekonomi.

Tujuan utamanya, kata Mendikbud, adalah nilai budaya melekat pada proses pendidikan. “Itu pula lah kenapa kita canangkan pendidikan karakter yaitu membangun budaya sekolah,” katanya.

Mendikbud lebih lanjut menjelaskan, dengan masuknya budaya dalam proses pendidikan adalah untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap nilai budaya sendiri.

Agenda substantif berikutnya adalah menggali warisan-warisan yang belum tergali dan belum ditemukan.

“Kalau ini bisa kita sinkronkan proses pendidikan dan pembudayaan melalui produk-produk budaya dan kita eksplor apa yang sudah diwariskan maka akan menjadi kekayaan yang luar biasa.”

Wamendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim menyampaikan, pihaknya diminta Presiden SBY untuk memajukan pendidikan sehingga peserta didik tidak hanya mempunyai kecerdasan yang baik, tetapi juga mempunyai karakter Indonesia.

Selain itu, kata dia, pihaknya diminta bagaimana agar tamatan sekolah atau perguruan tinggi selaras dengan kebutuhan pasar.


source: PosKota