Milyarder Itu Ternyata Seorang Guru

“Kalau ingin Kaya, jangan jadi Guru”, demikian nasehat Pak Muhadi, seorang pensiunan guru yang telah menghabiskan sebagian besar umurnya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Nasehat seperti itu sebenarnya sudah sering saya dengar, baik ketika saya memilih perguruan tinggi yang mencetak para guru, dan ketika di awal-awal saya memastikan diri untuk memilih profesi ini. Namun, nasehat dari Pak Muhadi yang sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri ini begitu membekas, apalagi menurutnya guru guru jaman sekarang sudah kelihatan menurun semangat pengabdian, dengan kasat mata Pak Muhadi melihat banyak guru sekarang yang “mata duitan”.

Nasehat tersebut selalu mengganggu pikiran saya, sampai beberapa waktu yang lalu sayapun masih bertanya-tanya dalam hati, apakah menjadi guru dilarang untuk menjadi Kaya? Beberapa buku yang saya baca seperti buku “bukan guru umar bakrie”, “menjadi guru yang bebas financial”, belum dapat menjawab penasaran saya. Sampai suatu waktu saya diperkenalkan dengan seorang yang kaya raya dan dia berprofesi sebagai guru. Loh koq bisa? Pikir saya.

Begini kisahnya, beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seseorang di rumah paman saya di Balikpapan. Ketika saya datang, orang tersebut baru akan pamitan pulang. Kami sempat bersalaman, dan dia memperkenalkan diri bernama Zamroni (bukan nama sebenarnya, saya belum minta ijin menulis kisah ini kepada ybs). Saya masih dapat melihat dia mengendarai mobil kijang innova yang masih ber-plat putih. Setelah Zamroni pulang, paman saya berkata, “Hebat itu Zamroni, dia sekarang sudah jadi milyarder. Dia ke Balikpapan untuk beli 2 buah truk untuk bisnisnya, dan itu mobil innnova juga baru keluar dari AUTO 2000, semuanya dibeli dengan cash..tunai” katanya kepada saya. “Padahal dia profesinya sama dengan dik Joko, sama sama guru” lanjutnya. “Hah.., milyarder itu seorang guru?, tanya saya gak percaya?. Betul dia sampai sekarang masih seorang guru di daerah transmigrasi.

Zamroni berasal dari daerah kelahiran ayah saya, di desa Gumuk Rejo daerah Kartosuro Surakarta JawaTengah, sebagai seorang guru SD (15 tahun yang lalu) penghasilannya kita semua sudah paham. Disamping sebagai guru, Zamroni adalah seorang petani yang rajin, namun karena terbatasnya tanah yang dimiliki tidak membuat ekonominya semakin membaik. Sampai suatu saat dia, istri dan kedua anaknya yang masih kecil kecil memutuskan ikut transmigrasi ke daerah Separi di wilayah Kutai Kertanegara Kalimantan Timur.

Ada sekitar 500 kepala keluarga yang diberangkatkan ke lokasi transmigrasi. Medan yang berat, tanah yang tidak mudah diolah, dan fasilitas yang minim membuat para transmigrasi disana berjuang dengan sangat keras. Bantuan Pemerintah lambat laun berkurang, bersamaan dengan sudah mulai tampak hasil panen dari tanaman yang ditanam oleh para transmigran. Setiap KK mendapat tanah garapan seluas 2 hektar ( 20.000) meter. Zamroni sama saja seperti transmigran lainnya, namun dia masih tetap sebagai guru dan belakangan sebagai kepala sekolah SD di daerah transmigrasi tersebut.

Ketika datang ke daerah tersebut, semua transmigran mendapat fasilitas yang sama, namun hasil yang didapatkan berbeda-beda. Ada yang bersuka cita dengan tanaman yang dihasilkan, namun ada cerita duka tentang transmigran yang gagal panen. Bagi transmigran yang gagal panen, ada yang terus bertahan di lokasi dan ada yang menyerah dan kembali ke tempat asal. Zamroni adalah seorang guru, dan petani yang berhasil, karena sejak di Jawa beliau memang terkenal sosok yang rajin. Artinya penghasilan Zamroni disamping hasil tani dan dia juga memiliki penghasilan sebagai PNS di daerah terpencil dengan tunjangan khususya.

Setiap tahun, ada saja transmigran yang menyerah dan kembali ke tempat asal dan Zamroni adalah tempat dan harapan transmigran untuk membantunya. Setiap tahun ada saja transmigran yang gagal yang menjual tanahnya kepada Zamroni, sampai 15 tahun, tanah yang dimiliki Zamroni semakin bertambah. Dia tidak pernah berniat membelinya, kecuali hanya untuk menolong temannya yang memaksa ingin pulang ke daerah asal dan tanah yang dimiliki Zamroni mencapai 24 (dua puluh) hektar.

Sampai suatu saat yang mengubah nasib para transmigran. Di dekat wilayah transmigran tersebut dibuka pertambangan batu bara. Perusahaan batu bara milik perusahaaan asing tersebut berbatasan dengan daerah transmigran bahkan ada daerah-daearah yang harus dikosongkan untuk keamanan lokasi pertambangan. Dan perusahaan mengganti rugi (lebih cocok ganti untung) tanah milik warga transmigran tersebut. Dari puluhan atau ratusan hektar tanah warga yang terkena lahan tambang, perusahaan mengganti sekitar Rp 10.000.- per meter. Atau sekitar 200 juta rupiah per hektar. Dan tanah garapan yang dimiliki Zamroni sebanyak 16 hektar. Sehingga Zamroni mendapat uang ganti untung sekitar Rp 3,2 Milyar. Subhanallah.

Kini Zamroni, selain sebagai guru dan petani, dia juga memiliki beberapa truk angkutan untuk mengangkut hasil pertanian para transmigran. Selain itu karena belum ada trayek angkutan umum, Zamroni juga mengoperasikan beberapa buah kendaraannya untuk menghubungkan wilayah transmigrasi ke kota terdekat Tenggarong dan Samarinda.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11 Dan Zamroni telah membuktikan kepada kita bahwa siapapun termasuk guru berhak untuk kaya, bila dia mau berjuang, kerja keras, dan kerja ikhlas. Zamroni telah membuktikan bahwa kebiasaannya yang rajin dan kerja keras, telah membentuk budaya kerja dan budaya membentuk karakter. Karakter yang baik yang menjadikan nasib baik berpihak padanya.

Penulis: