Pemimpin Sekolah dan Pembaruan

Membicarakan pembaruan atau inovasi, selalu saja ada seperti yang disebutkan oleh King dan Anderson sebagai orang kreatif (the creative person), proses kreatif (the creative process) dan produk kreatif (the creative product). Ketiganya saling berangkai karena manusia kreatif melahirkan proses kreatif dan proses kreatif lazimnya menghasilkan produk kreatif. Di lingkungan organisasi formal dapat kita temukan manusia kreatif, proses kreatif dan produk kreatif yang kemudian melahirkan sosok yang kita sebut sebagai pembaruan dalam manajemen keorganisasian.

Dalam keorganisasian sekolah, pemimpin sekolahlah merupakan pemimpin pembaruan. Menghadapi perubahan, berbagai macam reaksi yang timbul terhadap perubahan itu sendiri. Bila melihat reaksi terhadap perubahan dan tanggapan yang diberikan oleh pemimpin sekolah, maka pemimpin sekolah dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok:

1. Pemimpin Sekolah Proaktif

Pemimpin Sekolah yang termasuk kelompok ini adalah pemimpin sekolah yang mengantisipasi terjadinya perubahan dan melakukan berbagai langkah untuk memanfaatkan peluang tersebut sehingga dapat memperoleh nilai tambah bagi kemajuan sekolahnya. Sebagai contoh, sementara berbagai pihak masih asyik menyaksikan perang yang terjadi antara pasukan koalisi dengan pasukan Irak di Kuwait, Pemimpin Sekolah Kejuruan dan Pimpinan Lembaga Ketrampilan bekerjasama dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) mulai mempersiapkan program tambahan berupa kursus dan ketrampilan untuk bidang konstruksi dan tenaga medis. Pemimpin sekolah yang proaktif ini sudah memperkirakan bahwa setelah perang berakhir, pemerintah Kuwait akan membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tersebut untuk membangun kembali Negara Kuwait dan merawat penduduk atau tentara yang luka-luka selama perang berlangsung.

2. Pemimpin sekolah Reaktif

Pemimpin sekolah yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah pemimpin sekolah yang melakukan tanggapan segera terhadap perubahan perkembangan lingkungan persekolahan setelah perubahan lingkungan tersebut terjadi. Dalam memberikan reaksi terhadap perkembangan lingkungan persekolahan, pemimpin sekolah hendaknya memperhatikan konteks perubahan lingkungan tersebut secara saksama, karena dapat terjadi reaksi yang diberikan menjadi tidak efektif. Sebagai contoh karena persaingan yang sangat ketat untuk mendapat murid baru di Taman Kanak-Kanak, Para kepala Taman Kanak-Kanak terpaksa “perang program” dengan menawarkan pelajaran tambahan mulai dari belajar membaca, menulis, berhitung ditambah lagi dengan pelajaran bahasa inggris, bahasa mandarin, dan jarimatika, itu baru untuk program intra kurikuler, adalagi program ekstra kurikuler seperti Drum Band dan Tarian Modern. Reaksi kepala sekolah awalnya ditanggapi positif oleh orang tua murid yang ingin anaknya segera menjadi anak pintar. Namun demikian dalam perjalanannya terlalu banyak program membuat anak menjadi lelah, tidak bergairah dan stress. Kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak Kanak yang esensinya berupa taman yang indah dan menyenangkan telah berubah menjadi tekanan yang menyiksa anak-anak.

3. Pemimpin sekolah Pasif

Pemimpin sekolah yang termasuk kelompok ini adalah pemimpin sekolah yang menjalankan kegiatan sekolah apa adanya atau menjalankan program kegiatan sekolah dengan cara-cara lama tanpa mempertimbangkan secara serius perubahan ilmu pengetahuan, dunia usaha dan lingkungan persekolahan yang terjadi. Hal ini menyebabkan mereka bereaksi sangat lamban terhadap perubahan lingkungan yang terjadi dan menjadikan lembaga sekolah mereka berada dalam masalah yang kronis. Pemimpin sekolah seperti ini menjalankan kegiatan sekolah dengan pasif dan membiarkan kebiasaan buruk terjadi di lingkungan sekolahnya; seperti kurangnya disiplin, tidak punya sasaran yang jelas, dan komitmen yang rendah. Pelaksanaan pembelajaran pun berlangsung statis, guru hanya menggunakan satu atau dua metode dalam mengajar, biasanya metode ceramah dan tanya jawab, murid banyak menghafal, lembar-lembar ulangan yang tidak diperiksa, dan parahnya, guru masih menggunakan cara-cara lama dalam menghukum anak, hukuman fisik seperti menyetrap anak di depan kelas, membentak dan membersihkan WC kerap terjadi di sekolah seperti ini.

Ilustrasi diatas menunjukkan betapa pentingnya pemimpin sekolah memiliki strategi pengembangan sekolah, agar dapat mengantipasi tanggapan yang akan diberikan kepada organisasi sekolah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan dunia usaha sehingga sekolah dapat meletakkan kegiatannya secara relatif ‘aman’ di tengah konstelasi lingkungan yang senantiasa berubah.



Penulis: