Keterlambatan Dana BOS Bisa Picu Korupsi Berantai

Koordinator Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Hendri mengatakan, keterlambatan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) akan memicu terjadinya korupsi yang lebih luas.

Ia menjelaskan, banyak hal yang dapat menyebabkan dana BOS menjadi telat dicairkan. Ketika terjadi keterlambatan, sekolah akan menutupi biaya operasionalnya dengan meminjam dana dari pihak ketiga.

"Kepala Sekolah akan melakukan manipulasi laporan keuangan dan pertanggungjawaban mengingat meminjam dana dari pihak ketiga," kata Febri, Rabu (11/1/2011), di Jakarta.

Ia menilai, korupsi berantai bisa dikurangi jika pemerintah mampu menjamin kelancaran penyaluran dana BOS.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, untuk meminimalkan penyelewengan dana BOS, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, pengawasan pengelolaan dana BOS akan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat sekolah hingga pemerintah pusat.

“Pertama, melekat dalam sekolah itu sendiri yang melibatkan komite sekolah, termasuk orang tua," kata Musliar.

Kemudian, di tingkat kabupaten/kota ada tim pengawas, dan di daerah akan melibatkan juga Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Selain itu, orangtua murid diharapkan berperan aktif mengawasi pengelolaan dana BOS.

Mantan Rektor Universitas Andalas ini menambahkan, sekolah harus transparan. Jika masyarakat menemukan pelanggaran, terutama pungutan, sebaiknya segera dilaporkan untuk diambil tindakan.

“Kami akan lacak terus. Makanya kami minta sekolah-sekolah membuat laporan yang ditempelkan di papan pengumuman, jelaskan berapa uang masuk, berapa uang keluar. Laporan itu adalah laporan hidup yang berkala,” ujar Musliar.

Seperti diberitakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengklaim bahwa penyaluran dana BOS 2012 untuk triwulan I lebih cepat terealisasi. Hingga 9 Januari 2012, dana BOS telah disalurkan Rp 1,950 triliun (34,76 persen). Capaian ini dinilai lebih baik dibandingkan triwulan I tahun 2010 yang pada minggu kedua bulan pertama realisasinya masih nol persen. Menurut Kemdikbud, hal ini juga lebih baik jika dibandingkan realisasi bulan kedua minggu kedua tahun 2011 yang hanya mencapai 12 persen.