Kronologis Peristiwa 23 Januari 1942 dan Ketokohan Nani Wartabone (1907-1986)


Bertepatan dengan Hari Tahun Baru Imlek 2563, pada hari ini juga Masyarakat Gorontalo kembali merayakan Hari Kemerdekaan, Hari Patriotik 23 Januari 1942. Pada tanggal tersebut masyarakat Gorontalo telah memproklamasikan Kemerdekaan Gorontalo tiga tahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada peristiwa ini pulalah yang kemudian mengantar Nani Wartabone dianugerahi Pahlawan Nasional pada 10 November 2003. Nama bapak Nani Wartabone memang jarang terdengar di luar daerah Gorontalo, namun di Provinsi Gorontalo, cerita kepahlawanannya tidak pernah surut hingga saat ini.

Inilah kronologis detik-detik patriotisme 23 Januari 1942, seperti yang ditulis oleh Ronny Hunawa dalam laman Pemda Bone Bolango.


Sekitar jum’at subuh, tanggal 23 January 1942, pasukan Nani Wartabone dengan rakyat dari suwawa dan daerah yang di laluinya, tiba di kota Gorontalo. Anak buah Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali dari polisi segera bergabung. Yang mula-mula di kuasai adalah tangsi polisi dan penangkapan terhadap kepala polisi belanda. Nani Wartabone mengigatkan; “Markas dan tangsi polisi telah di kuasai oleh pemuda dan rakyat. Sebaiknya Tuan menyerah saja”. Kepala polisi yang besar itu ingin mencabut pistolnya, tetapi bedil Nani Wartabone telah di todongkan ke perutnya. Segera pasukan hulunga menyerbu, merampas pistol dan melekatkan pedang, pisau dan keris ke tubuh orang belanda itu. Ia segera diringkus dan di jaga oleh beberapa pemuda...
Dari sana pasukan itu menuju rumah kontrolir. Orang ini terkenal dengan tatapan matanya yang tajam dan menakutkan. Nani Wartabone dengan para pemuda mendekatinya dan tidak takut dengan tatapan mata penjajah itu. Kontrolir masih menanyakan: “Mengapa kamu datang kesini? Apa perlunya? Segera pulang!”. Belum selesai perkataannya, Nani Wartabone telah menodongkan bedilnya, yang di ikuti gerak cepat para pemuda. Hampir terjadi insiden, namun Nani Wartabone mengigatkan: “tidak boleh seorang pun yang menyakitinya atau keluarganya. Barang-batang milik orang belanda tidak boleh di ambil. Siapa yang melanggar perintah ini, Akulah yang akan mengadilinya”. Kontrolir segera dijaga oleh beberapa pemuda di rumahnya.

Nani Wartabone memimpin lagi penangkapan tuan Petrus. Tuan Petrus orang yang ramah. Ia keluar dengan keramahannya. Nani Wartabone dengan ramah pula mengatakan: “Lebih baik Tuan Petrus menyerah saja kepada kami. Dan kami akan memperlakukan Tuan dengan baik”. Tuan petrus tidak melawan. Beberapa pemuda mendampinginya di rumah itu.

Ada seorang pejabat belanda, yang oleh rakyat disebut Tuan Lamuqo. Ketika ia melihat orang banyak berkumpul di jalan dan rumah-rumah kontrolir dan Petrus (dalam bahasa gorontalo ti Pe:tulu ), ia sudah mempunyai pirasat yang buruk. Dengan segera ia melarikan diri, dan naik sebuah truk. Namun rakyat banyak dapat mengejar dan menahan truk itu. Orang itu diturunkan lalu ditangkap dan dibawah ke rumah kontrolir.

Penangkapan itu berjalan sangat mulus, tanpa mengeluarkan peluru, tanpa menikamkan senjata tajam. Darah tidak tertumpah, baik pada pihak belanda maupun rakyat. Sebelum pukul sembilan pagi semua pejabat pemerintah Belanda, yang berjumlah lebih kurang 20 orang itu sudah di tangkap. Mereka disatukan dengan kontrolir, Asisten Residen, Petrus, Kepala polisi, dan dibawah ke penjara.kepala polisi merasa tersinggung. Ia melawan untuk masuk penjara. Pada saat itu muncullah Ardani Ali (polisi) yang menariknya ke penjara, lalu mendorongnya ke dalam. Rupanya ia tidak rela apa yang dialami rakyat yang ditahan dalam penjara. Penjara di buat hanya untuk bangsa indonesia, bukan Belanda. Ternyata Belanda harus masuk ke penjara buatannya sendiri.

Rakyat yang ditahan Belanda di keluarkan dari penjara. Mereka berteriak-teriak gembira, sambil mengucapkan terima kasih kepada Nani Wartabone dan para pemuda. Suasana rakyat di kota, yang telah datang dari pelosok gorontalo, tampak sangat gembira. Ada yang mengucurkan air mata, karena mengingat penderitaan yang dialami selama pemerintah Hindia Belanda. Ada yang bergembira karena telah tercapai Cita-cita Kemerdekaan.

Selesai penangkapan terhadap Belanda. Nani Wartabone memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda, merah -putih- biru, dan menggantikannya dengan bendera nasional, merah putih. Yang mula-mula diturunkan adalah bendera di depan kantor pos. kain warna biru dirobek, lalu sisanya merah putih di naikan kembali.

Rakyat di arah ke alun-alun di depan rumah Asisten Residen (sekarang rumah gubernur Gorontalo). Bendera belanda di turunkan dan di ganti dengan bendera nasional merah putih. Lagu indonesia raya di kumandangkan dengan penuh semangat, terutama oleh pemuda-pemuda dan siswa-siswa yang telah menguasai lagu tersebut. Para Orang tua-tua terharu, dan merasa bersyukur. Ketika itu rakyat menanti apa yang akan di perintakan pemimpin mereka.

Nani Wartabone tidak banyak berkata-kata, karena banyak yang harus di kerjakan seperti pemerintahan dan keamanan. Ia berpidato, antara lain: “Pada hari ini tanggal 23 januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita adalah merah putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintah belanda telah diambil alih oleh pemerintahan Nasional”. Rakyat menyambut pidato itu dengan tepuk sorak…..

Itulah peristiwa bersejarah yang terjadi di gorontalo, yang di kenal dengan : “HARI PATRIOTIK 23 JANUARI 1942, yang perjuangannya di pimpin langsung oleh : “NANI WARTABONE”.

Peristiwa 23 January 1942 di gorontalo, merupakan salah satu dari mata rantai rangkain pergerakan Rakyat Indonesia. Aksi rakyat yang di pelopori oleh tokoh Nani Wartabone, dan diperkuat oleh teman-temannya itu, dapat dikatakan sebagai salah satu pilar yang memperkokoh Proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945. Secara analogi, walaupun hanya terjadi di daerah Gorontalo, pada saat itu daerah dan rakyat Gorontalo telah di bebaskan dari pemerintah penjajah belanda. Pada saat itu pula, pemerintahan di Gorontalo beralih dari penjajahan Belanda kepada sebagian rakyat Indonesia. Dapat dikatakan, terjadi suatu proklamasi kecil di Gorontalo, yang secara langsung atau tidak merupakan pemula dari peristiwa Kemerdekaan.

Dilihat dari sifat perjuangannya, maka peristiwa itu termasuk gerakan “PATRIOTIK”. Patriotik adalah semangat cinta Tanah air, atau sikap yang suka bekorban segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah air. Makna patriotik itu mewarnai peristiwa 23 januari 1942. Tekad pimpinan dan rakyat pada saat itu, adalah ingin mengubah nasib rakyat dan melindungi tanah air dan kekayaannya, dari kesewenang-wenangan Belanda. Contoh-contoh sifat patriotik pada tokoh Nani Wartabone, adalah tidak bersedia menerima jabatan dari pemerintah Belanda, justru dia selalu menentang. Akibatnya dia selalu di curigai oleh Belanda. Ia lebih suka berkebun dengan rakyat, sambil menggembleng mereka agar menyadari makna perjuangan merdeka daripada menerima tawaran Belanda.

Nani Wartabone adalah tokoh di Gorontalo yang mempunyai relasi yang banyak dengan tokoh-tokoh nasional. Ia bukan tokoh tradisional, yang terpencil yang hanya dikenal di daerahnya saja, tetapi sejak di surabaya ia telah mengenal dan di kenal oleh beberapa tokoh pergerakan nasional.

Tokoh idolanya yang banyak berpengaruh dalam jiwanya adalah proklamator Indonesia, Bung Karno. Ia pernah tinggal dengan Sukarno di bandung selama beberapa Minggu. Bersama tokoh nasional itu, ia menemukan dan mematangkan konsep dan jiwa nasionalisme. Ia juga dapat meniru jiwa besar dan patriotisme Bung Karno.

Dalam beberapa kesempatan, Nani Wartabone yang masih pemuda itu, ikut berdiskusi politik dengan tokoh-tokoh lain. Ia banyak berdiskusi dengan Mohamad Yamin, Soetomo, H.O.S Cokroaminoto, dan lain-lain. Kalau kita mengkaji ketokohan tokoh-tokoh nasional itu, tentu saja dapat di pastikan dalam diri Nani Wartabone terdapat panorama yang unik gabungan dari jiwa dan semangat tokoh-tokoh nasional itu. Ia dapat menimba berbagai konsep dari para tokoh itu, yang akhirnya memperkuat semangat pergerakan kebangsaan pada dirinya. Disini dapat di pahami , bahwa adalah tepat kalau Nani Wartabone dapat di masukan pada tokoh nasional yang ada di Gorontalo. Karena konsep nasionalisme dari berbagai tokoh itu, menjiwai perjuangan dan kepribadiannya.

Peristiw 23 januari 1942 bukan hanya bernuansa politik dan nasionalis dengan jiwa patriotisme, tetapi juga bernuansa budaya. Dalam lembaga (pranata) budaya gorontalo, terdapat suatu petuah bagi pemimpin yaitu Banguasa ta:lalo ‘Bangsa dijaga’ dan Lipu Poduluwalo ‘Tanah air dibela’. Tokoh Nani Wartabone dan penggerak lainnya, berjuang untuk mempertahankan bangsa dan membela rakyat, agar tidak hancur oleh tindakan belanda yang mulai kalap pada masa-masa kekalahan mereka. Nani Wartabone ingin menjaga milik rakyat yang ada di Gorontalo dari upaya penghancuran, bahkan pembumihanguskan oleh belanda.

Dengan berpegang pada budaya menjaga bangsa dan membela rakyat, maka peristiwa itu tidak menyebabkan kerusakan. Bahkan moral dan etika di pertahankan, sehingga tidak terjadi perampasan harta kekayaan, tidak ada penjarahan, dan tidak terjadi pembalasan demdam terhadap pemerintah Belanda dan keluarga mereka. Inilah yang menyebabkan peristiwa berwujud gerakan kemerdekaan yang tidak berdarah. Harus diakui bahwa cita rasa budaya Indonesia dan daerah seperti kemanusiaan, persatuan, keadilan, persamaan, kerakyatan, dan musyawarah untuk mufakat merupakan pilar-pilar untuk mengembangkan semangat keindonesiaan, semangat kebangsaan. Cita rasa budaya seperti itulah yang menjiwai Nani Wartabone pada saat memimpin gerakan 23 januari 1942.

Dukungan masyarakat secara keseluruhan terhadap Ketokohan Nani Wartabone adalah karena perjuangannya siasat budaya Gorontalo, yang dipadukan dengan politik dan agama. Simbol budaya sebagai pranata dalam masyarakat Gorontalo, yaitu hulunga di manfaatkan untuk menggembleng pemuda dan petani. Hulunga adalah suatu pranata budaya yang menghimpun orang untuk bekerja di sawah, di kebun, atau dalam pesta. Hulunga dalam makna yang luas sama dengan bergotong royong. Gagasan ini didukung oleh pendirian “Persatuan Tani” pada bulan November 1927.

Dengan simbol hulunga, Nani Wartabone mengajak pemuda dan rakyat bekerja sama dalam perkebunan dan pertanian. Mereka berjumlah kurang lebih 300 orang. Pasukan hulunga inilah yang menjadi pasukan inti pada waktu peristiwa 23 januari 1942. Mereka setia dan taat kepada Nani Wartabone, karena penampilan kepribadiannya. Pemuda dari berbagai desa di sekitar Suwawa, ada juga dari luar Suwawa, disatukan dalam satu kegiatan itu. Mereka selain diajak meningkatkan kesejahteraan, memanfaatkan lahan, juga di bina agar tidak tergantung pada orang lain. Pada kesempatan bertani itu di tanamkan pula rasa cinta tanah air, keberanian, dan cita-cita untuk merdeka. Mereka diajarkan nyanyian Indonesia raya, guna menggugah semangat kebangsaan.

Konsep-konsep politik dan perjuangan dibicarakan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Selain itu, bendera merah putih dipancangkan di tengah kebun atau pertanian, dimana mereka berhimpun untuk bekerja. Bendera ini di jahit oleh istri Nani Wartabone. Ia berjuang bersama Nani Wartabone, sebagai dukungan terhadap perjuangan suami. Ada juga bendera-bendera kecil yang mereka simpan sebagai tanda anggota hulunga. Peranan istri Nani Wartabone pada persiapan dan pembinaan semangat sangat penting. Semua urusan anak-anak dan rumah tangga dilaksanakan, sehingga Nani Wartabone dapat berkonsentrasi pada perjuangan. Ia juga membuat dan menyimpan bendera merah putih pada saat yang genting.

Misalnya pada saat NICA menggeledah keluarga yang memiliki bendera merah putih, maka sang istrilah yang menyembunyikan bendera itu. Termasuk kegiatannya menyebarkan semangat kebangsaan pada ibu-ibu tetangga. Ada waktu-waktu tertentu, misalnya pada istirahat Nani Wartabone berbicara dan berceramah kepada pemuda kelompok hulunga itu.

Melalui hulunga, Nani Wartabone menyatukan rakyat pengikutnya. Ia bekerja bersama rakyat, sehingga sifat kerakyatannya sangat menonjol. Tidak heran kalau ia dicintai dan dipatuhi oleh pengikutnya. Tokoh yang memberi manfaat kepada rakyat, dan tidak mengambil sesuatu apapun dari rakyat. Tokoh yang banyak berbuat untuk rakyat melalui simbol budaya hulunga, dan menolak untuk mendapat jabatan dan kedudukan dari penjajah Belanda. Ia berpegang pada semboyan “ rakyat yang harus di bela” agar dapat menikmati kekayaan tanah airnya. Pengaruh positif budaya hulunga itulah yang menyebabkan mulus dan suksesnya peristiwa 23 januari 1942.

Peristiwa 23 januari 1942, menjadi lambang keberhasilan perjuangan yang sampai kini diperingati oleh rakyat gorontalo. Di mana saja ada kelompok orang gorontalo, baik penduduk asli maupun keturunan, selalu berupaya memperingati peristiwa patriotik itu, bagi masyarakat Gorontalo, peristiwa itu dipandang sebagai aksi yang bersifat nasional di daerah, karena hakikat perjuangannya bukan semata untuk rakyat Gorontalo, tetapi adalah bukti perjuangan kebangsaan yang untuk meraih kemerdekaan.

Karakteristik peristiwa ini adalah pergerakan yang tidak berdarah. Timbul pertannyaan mengapa tidak berdarah, padahal bila terjadi aksi seperti itu sering menelan korban. Jawabannya adalah:
  1. Dalam aksi 23 januari 1942 tercermin landasan budaya Gorontalo yang cinta damai dan cinta keamanan. Budaya gorontalo bertolak dari syariat Islam. Landasan inilah yang menyebabkan Nani Wartabone melarang pengikutnya untuk berbuat jahat kepada belanda. Peristiwa 23 januari 1942 bukanlah pembalasan demdam, melainkan suatu perjuangan untuk melepaskan diri dari penjajahan.
  2. Nani Wartabone tidak ingin menodai perjuangan luhur itu. Kalau terjadi penjarahan, pembunuhan, dan penganiayaan maka perjuangan luhur itu bisa ternoda. Ia ingin memberikan suatu kesan yang baik kepada Belanda, bahwa bangsa Indonesia yang ada di Gorontalo berjuang untuk mencapai cita-cita yang luhur, dengan cara-cara yang manusiawi dan etis.
  3. Lancarnya penangkapan, penaikan bendera, pembentukan pemerintahan menunjukan ketinggian intelegensia Nani Wartabone mengatur siasat. Ia mahir dalam membaca situasi, lalu tepat menentukan cara yang wajar dan cocok dengan situasi itu. Ia tidak mendahulukan emosi yang rendah, tetapi mengemukakan nalar yang terkendali: cara-caranya menggembleng pemuda melalui hulunga, siasatnya merahasiakan hari puncak kepada orang lain, kehebatannya mengatur teman dekatnya, dan ketepatannya mengambil waktu, adalah bukti kecemerlangan berpikir untuk mengatur siasat.
  4. Kepercayaan pengikut kepada Nani Wartabone, yang didukung oleh kharisma pribadi, kejujuran, dan keikhlasan menjadi pilar pendukung keberhasilan yang gemilang itu. Semua orang menyatu untuk tidak melanggar aturan dan perintahnya. Tidak ada yang berupaya menyeleweng untuk membuka rahasia persiapan menjelang hari puncak, menjadi tanda bahwa Nani Wartabone adalah tokoh pemimpin yang didambakan rakyat untuk membawa mereka ke arah yang lebih baik.

Itulah jawaban mengapa peristiwa besar itu tidak menimbulkan meletusnya senjata, tidak tertikamkan senjata tajam, dan tidak mengalirnya setetes darah pun. Kuncinya adalah hati nurani, etika, dan moralitas pemimpin yang mampu mempertimbangkan perilaku baik dan buruk, ganjaran kepuasan terhadap kebaikan dan cemooh terhadap keburukan, dan mencari kesenangan hati semua orang dan menghidari kebencian dan balas demdam.