Mahasiswa Ini Kandidat Doktor Ilmu Virus di Harvard University


Perawakan pria itu agak kecil. Senyumnya lebar hingga giginya yang rapi terlihat. Sesekali dia menyibakkan rambut depannya yang menghalangi kacamata minusnya. "Terus terang Mas, idola saya Pak Dahlan Iskan," katanya setelah Jawa Pos memperkenalkan diri.

Pria itu adalah Panji Hadisoemarto ketika ditemui di kampus Harvard University. Salah satu kampus terbaik di dunia tersebut siang itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa tampak berkelompk di sudut-sudut kampus yang dipenuhi guguran daun pohon maple yang menguning.

Tak lama lagi Panji akan lulus sebagai doktor di bidang public health di Harvard School of Public Health. Jawa Pos menemui dia di sela-sela kunjungan Outstanding Students for The World Kementerian Luar Negeri 2011 di Boston, Amerika Serikat (11/11).

Panji adalah dokter lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. "Saya pernah bekerja di Namru tahun 2004 sampai 2005," katanya.

Namru adalah proyek Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Proyek itu sekarang dihentikan karena banyak kritik di dalam negeri. Termasuk dugaan bahwa Namru digunakan sebagai kedok CIA untuk beroperasi di Indonesia.

"Waktu itu saya yang pertama mengambil sampel virus flu burung yang menyerang manusia untuk Namru. Deg-degan juga," ujarnya.

Pemain gitar klasik itu keluar dari Namru karena ditawari posisi mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. "Seingat saya, sulit sekali mau bergerak untuk meneliti dengan membawa label Amerika. Setiap saya mengambil sampel untuk penelitian atau survei, rasanya ada saja pandangan mata yang membakar saya, seolah-olah saya ini seorang penjahat," tutur Panji.

Padahal, menurut dia, sebenarnya ada banyak hal yang bisa diambil dari proyek Namru. "Dari sisi ilmiah, sangat menguntungkan penelitian di Indonesia. Tapi, bagaimana lagi, penelitian tak bisa dipisahkan dari politik," kata pria 35 tahun itu.

Panji lantas melanjutkan pendidikannya dengan mengambil master di Institute of Public Health, Georgia State University, Atlanta. Lulus dari sana dia melamar masuk program doktor ke Harvard. "Waktu itu saya bingung juga bagaimana kalau diterima. Soalnya belum ada beasiswa. Ternyata, kuncinya, lamar dulu, uang akan mengikuti," ceritanya.

Hari-hari di Harvard kebanyakan diisi dengan belajar, baik itu berada di kelas maupun di luar kelas, mengerjakan tugas, membaca artikel, atau berdiskusi kelompok. "Beban studi di sini memang sangat berat. Di sini setiap semester mahasiswa mengambil rata-rata 15?20 SKS (4?6 kelas). Setiap kelas biasanya bertemu dua kali dalam seminggu, beberapa dengan tambahan satu sesi laboratorium," kata Panji menceritakan hari-harinya di Harvard.

Setiap minggu hampir ada tugas tertulis dan tugas baca untuk setiap pertemuan. "Tapi, karena saya berpikir suatu saat pasti akan bermanfaat untuk tanah air, saya jalani saja," imbuhnya.

Menurut Panji, Harvard menerima banyak mahasiswa internasional. Tahun lalu sekitar 35 persen dari seribuan mahasiswa baru yang diterima adalah mahasiswa internasional, kebanyakan dari Kanada, India, dan Tiongkok. "Tahun ini kita punya empat mahasiswa Indonesia di Harvard School of Public Health."

Panji mengaku beruntung bisa kuliah di Harvard. "Saya memang sangat ingin berkuliah di luar negeri. Sejak SMA saya mulai melamar-lamar ke berbagai program beasiswa. Sebelum lulus SMA saya melamar ke program Monbusho. Di akhir program S-1 saya melamar ke Chevening dan di akhir program koasistensi saya melamar ke Ausaid," kenangnya.

Semua berujung tanpa kabar alias ditolak mentah-mentah. Panji mengaku bukan mahasiswa yang sangat cerdas. Bahkan, dia sempat gagal di UMPTN. "Tapi, kuncinya tidak boleh menyerah," katanya.

Pada 2006, Panji diterima untuk mengambil gelar master of public health di Georgia State University, Atlanta. Di akhir masa studi master pada 2009, atas dorongan dari koleganya di Unpad, Panji melamar ke beberapa program doktor dan diterima di Harvard School of Public Health.

"Pihak kampus mengatakan, kalau tidak ada bantuan finansial yang bisa diberikan kepada saya, apakah saya tetap akan memutuskan untuk masuk ke Harvard" Tentu saja, saya bingung setengah hidup karena tidak mungkin saya bisa menyediakan hampir USD 60.000 per tahun," tuturnya.

Tapi, Panji nekat saja. Ternyata, pada tahun kedua, Harvard memberikan beasiswa penuh untuk lima tahun kuliah. Termasuk asuransi dan uang saku bulanan. "Mungkin mereka sengaja menakut-nakuti di awal untuk menyaring motivasi mahasiswa," katanya.

Alumnus SMA 3 Bandung itu optimistis bahwa banyak ilmuwan Indonesia yang akan melanglang dunia. Termasuk di Amerika Serikat. "Pilihan apakah alumni luar negeri mau pulang atau bekerja di negara lain itu sangat variatif. Ada yang berpendapat bisa saja membangun bangsa dari luar. Tak harus pulang," katanya.

Apakah Panji ingin pulang untuk menularkan ilmu di tanah air? Ditanya seperti itu, Panji menjawab tegas. "Saya pasti pulang, insya Allah," katanya.

Saat ini dia tercatat sebagai salah seorang staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung. "Prinsip saya, ambil ilmu di negara orang sebanyak mungkin, baktikan untuk Indonesia," katanya.