Pemerkosaan, FBI punya Definisi Baru

Untuk pertama kalinya dalam 83 tahun terakhir, Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat memperbarui definisinya tentang pemerkosaan. Dalam definisinya kali ini, kaum pria dan orang-orang yang secara fisik tak sanggup melawan serangan, masuk dalam kategori korban pemerkosaan.

Dengan definisi baru ini, kemungkinan angka korban pemerkosaan yang tercatat oleh FBI akan meningkat karena adanya penambahan kategori korban. Namun, hal itu tak akan mengubah hukum negara atau hukum negara bagian, dan statistik yang telah ada digunakan untuk alokasi pencegahan pemerkosaan atau pendampingan korban.

Dilansir kantor berita BBC, Minggu 8 Januari 2012, FBI sebelumnya mendefinisikan pemerkosaan sebagai penguasaan fisik secara paksa terhadap seorang wanita, di luar kehendaknya. Dalam definisi baru, kata-kata yang merujuk pada kaum hawa saja, akhirnya dihilangkan.

Kini, definisi tindak pemerkosaan menurut FBI adalah 'penetrasi sekecil apapun di luar kehendak korban terhadap alat kelamin atau anus menggunakan bagian tubuh atau benda lainnya'. Selain itu, aktivitas seksual yang terjadi di luar kehendak korban, juga dimasukkan dalam definisi pemerkosaan.

Wakil Presiden AS Joe Biden mengatakan, pembaruan definisi adalah kemenangan bagi para korban yang penderitaannya seolah dinafikan selama 80 tahun. "Kami tak dapat memecahkan masalah ini kecuali dengan memperlebar definisi pemerkosaan," ujar Biden, yang sudah membawa isu ini sejak Juli 2011 di rapat kabinet.

Beberapa negara bagian di AS telah mengadaptasi definisi yang lebih luas ini sebelum FBI melakukan pembaruan. Hal serupa juga dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Tahun ini, Kongres Pemerintah AS mengalokasikan dana US$592 juta (Rp5,3 triliun) khusus untuk isu kekerasan terhadap wanita. Menurut studi terbaru CDC, satu dari lima wanita dan satu dari 71 pria di AS pernah diperkosa.