Tahun Baru, Pemimpin Baru, Harapan Baru


Kalender telah berganti menjadi 2012. Begitu pula dengan kepemimpinan Gorontalo yang telah berganti. Tahun 2011 silam kita diperhadapkan pada momentum politik lokal yang memberi kesempatan untuk menentukan masa depan bersama, merangkai harapan baru. Kita telah melewati tahun 2011 dengan perasaan sedih, kecewa, bahagia, bangga, sumringah dan bahkan telah membuat kita mesti terbahak-bahak walau tak lucu.

Pergantian kepemimpinan adalah sesuatu yang tak terelakkan. Sesuatu yang dimungkinkan dalam kerangka demokrasi prosedural. Bergantinya tahun adalah sesuatu yang alamiah, sering terulang dan bahkan hanya berlangsung beberapa detik. Tradisi pergantian telah menjadi perhelatan penting dalam setiap bangsa, yang pada intinya ingin berubah ataupun berniat lebih baik.

Peringatan waktu sekaligus kepemimpinan rupanya telah menjadi seragam dalam memori kita. Bahwa ia adalah momentum untuk melepas sekaligus mengharapkan. Kita tentu akan melepas yang lalu, tapi kita tak dapat menjemput yang akan datang, karena yang akan datang adalah juga yang terbuka. Tak terberi sekaligus tak terpikirkan. Masa depan adalah sesuatu yang terbuka sekaligus adalah juga misteri.

Semua di antara kita pasti telah saling bertanya tentang rencana pergantian dan pengharapan itu. Banyak hal yang dilakukan dengan itu, ada yang memperlakukan momentum dengan ritual teologis seperti dzikir dan sebagainya, ada pula yang melaksanakan diskusi dan pameran prestasi untuk merefleksikan kehidupan yang telah lewat sekaligus memperkirakan masa depan.

Di Gorontalo, acara pergantian tahun dari 2011 ke 2012 dilaksanakan dengan acara dzikir akbar. Sebuah persembahan teologis untuk meminta dan berharap yang baik. Tradisi teologi-lokal baru yang diasosiasikan dengan jargon Serambi Madinah. Sebagai sebuah tradisi kolektif penting dan berharga adalah mesti diapresiasi. Karena ia adalah ruang pengharapan ke masa dan waktu yang lebih baik. Asalkan lahir dari sanubari yang tulus dan ikhlas.

Bersamaan dengan itu, keniscayaan yang lain adalah Provinsi kita semakin bertambah usianya. Sepotong waktu, dengan kebaikan dan keburukannya, telah usai; sepotong lagi, yang masih kosong dan siap menampung apa pun, sudah menanti. Tak terelakkan. Dan yang selalu menganggu pikiran setiap kali suatu masa yang baru telah tiba, pertanyaannya selalu sama: Apakah ada hal-hal yang lebih baik di masa yang baru saja lewat yang sudah dilakukan? Lalu, untuk mengukur semua ikhtiar yang dilakukan pada tahun yang baru, digantungkanlah apa yang kini disebut resolusi. Merayakan sebuah prestasi adalah penting, yang lebih penting adalah merawat ikhtiar untuk bekerja lebih keras. Kita tak akan pernah tahu, sampai kapan ikhtiar itu kita rawat dan akan berlangsung. Tetapi, seperti meneladani tim sepak bola negara-negara yang rutin menjadi juara dunia, ikhtiar untuk terus di puncak tak pernah benar-benar berhenti, latihan dan pertandingan tak pernah dicampakkan; mereka boleh saja gagal menjadi juara pada suatu waktu, tapi kualitas mereka dari periode ke periode sulit untuk dikatakan mandek.

Dari perjalanan kita selama ini, hampir jelas bahwa Gorontalo bukanlah sesuatu yang terberi, tetapi rangkuman niat, harapan dan kesepakatan yang dari masa ke masa berubah oleh perdebatan, pertentangan ideologi, dan pengabaian aspirasi-aspirasi tertentu. Saya sepakat dengan Pramoedya Ananta Toer bahwa upaya diatas ‘adalah juga perjuangan yang sama sengitnya dengan perjuangan-perjuangan lain dalam meningkatkan peradaban sesuatu bangsa dan peninggian nilai manusia’. Sumber-sumber nilai kemanusiaan baru harus ditemukan, bahkan yang kadang-kadang tidak punya persangkutan dengan yang tradisional.’ Ya, kita harus cergas menangkap setiap ‘titik sinar’; kita perlu periksa siapa dan gagasan apa yang terpental, serta belum tuntas diperbincangkan dalam setiap ikhtiar memaknai dan menyempurnakan rancang-bangun bernama Gorontalo ini.

Saya ingin menegaskan bahwa ancaman di masa akan datang adalah pertarungan politik dan kultural. Kita sedang berebut ruang dan pengaruh untuk menentukan rambu-rambu kekuasaan negara dan merumuskan masa depan Gorontalo. Dalam arena pertarungan ini kita perlu membangun gerakan kebudayaan yang memungkinkan tumbuhnya imajinasi tentang Gorontalo baru yang kita dambakan dengan cita-cita politik yang jelas. Kita tidak bisa bertahan dengan posisi-posisi anti a atau b sebagai reaksi terhadap provokasi ‘pihak sana’. Kita tidak boleh membiarkan gerak kita ditentukan oleh manuver-manuver sempit dan jangka pendek yang dilempar untuk mengacak-acak kesatuan dan keteraturan derap kita. Kita harus tegaskan posisi kita terhadap hal-hal fundamental yang menjadi landasan dan kerangka tegaknya teritori ini.

Kita bukan bangsa yang lemah dan tak berakal-budi. Kita bukan obyek penerima sedekah dan tindakan karitatif lainnya. Kita mesti berdiri dan berbusung dada untuk membangun Gorontalo kita dari puing-puing reruntuhan peradaban emas di era Ilomata Wopato silam. Ilomata yang kini menjadi harapan sekaligus dambaan setiap anak negeri mesti kita jemput dengan sepenuh hati. Ilomata sekali lagi adalah bukan yang terberi, ia adalah perjuangan kolektif kita. Momentum-momentum yang telah lewat mesti kita kelola dan rawat agar ia menjadi ruang semedi kultural kita untuk penciptaan Ilomata baru.

Maka, tahun boleh berganti, pemimpin boleh berganti, tetapi jika dalam gaya dan perilaku politik yang sama, semua hanya menjadi rutinitas kewaktuan dan prosedur demokrasi belaka. Tahun baru dan kepemimpinan baru mesti diikuti oleh harapan baru. Karena hanya dengan harapan baru itulah kepemimpinan berganti.